<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel K3</title>
	<atom:link href="http://www.artikelk3.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.artikelk3.com</link>
	<description>Artikel Keselamatan &#38; Kesehatan Kerja untuk Membudayakan K3</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Aug 2012 00:04:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.1</generator>
		<item>
		<title>K3 dan Budaya Keselamatan</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/k3-dan-budaya-keselamatan.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/k3-dan-budaya-keselamatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2012 13:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1157</guid>
		<description><![CDATA[Adanya budaya keselamatan (safety culture) akan sangat mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Apa itu budaya keselamatan? Budaya keselamatan adalah sifat dan sikap dalam organisasi dan individu yang menekankan pentingnya keselamatan. Oleh karena itu, budaya keselamatan mempersyaratkan agar semua kewajiban yang berkaitan dengan keselamatan harus dilaksanakan secara benar, seksama, dan penuh rasa tanggung jawab. Namun budaya di setiap organisasi itu berbeda-beda dan bervariasi karakteristiknya seperti sebuah keluarga yang memiliki perbedaan dari keluarga lainnya. Pertanyaannya apakah sudah banyak organisasi dan individu yang melibatkan keselamatan dalam budayanya? Each organisation has its own culture, its own character-like a family… Walaupun K3 sudah “dianggap penting” dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Salah satu hambatan tersebut tidak lain adalah hambatan sosial budaya (selengkapnya mengenai hambatan dalam K3 lainnya klik disini). Ya ini artinya budaya keselamatan di negara kita masih patut dipertanyakan. Budaya keselamatan yang masih kurang di negara kita ditandai dengan adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya santai dan tidak peduli dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada budaya mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat / pekerja. Contoh gampangnya jadikanlah pengendara sepeda motor sebagai sampel. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang sangat berkembang di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jalanan di negara kita hampir tidak pernah sepi dari lalu lalang sepeda motor. Sepeda motor sudah bisa menjadi cerminan garis besar gaya hidup dan budaya negara kita saat ini. Namun Anda bisa perhatikan berapa persen dari pengendara sepeda motor itu yang benar-benar mematuhi keselamatan misalnya saja menggunakan helm yang standar atau tidak, jika sudah apakah beltnya dikencangkan atau tidak, berapa persen yang benar-benar mematuhi rambu lalu lintas (termasuk saat lalu lintas sepi dan tidak ada polisi lalu lintas), berapa persen yang benar-benar merawat (maintenance) sepeda motornya dengan baik, bahkan perlu dipertanyakan berapa persen pengendara yang benar-benar bisa menyetir dalam arti benar-benar tahu cara mengendarai sepeda motor di jalan dengan benar dan paham semua rambu lalu lintas, dsb. Konon bahkan budaya keselamatan pengendara motor Indonesia tidak lebih baik dari Vietnam. Apakah pengendara tahu tentang keselamatan? Jawabannya sudah pasti ya, namun kenapa masih belum berjalan? karena keselamatan itu hanya masih dalam sebatas pengetahuan saja (walaupun sebenarnya pengetahuannya juga minim) namun belum membudaya, faktor budaya sangat berpengaruh baik itu budaya individu, keluarga, atau organisasi. Ada beberapa kendala dalam menciptakan dan menegakkan budaya keselamatan di Indonesia, selengkapnya klik disini. Namun bukan berarti negara dan masyarakat kita sama sekali tidak mempunyai budaya keselamatan. Sebenarnya kita sudah mempunyai beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan untuk memiliki budaya keselamatan. Namun entah kenapa budaya itu masih sulit ditegakan sepenuhnya di masyarakat kita. Beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan budaya keselamatan yang sudah ada di dalam negara dan masyarakat kita antara lain: Budaya keselamatan dalam budaya dan nilai lokal Beberapa budaya lokal di negara kita sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai keselamatan seperti budaya Jawa yang memiliki pepatah “gremet-gremet waton selamet” yang artinya merayap asalkan selamat dan ”alon-alon waton kelakon” yang artinya pelan-pelan asal selamat (terlaksana). Ini bukan berarti mengajarkan untuk selalu lambat, tapi maksudnya adalah utamakan keselamatan (safety first), setelah keselamatan terjamin barulah kualitas dapat dicapai. Jadi maksud pepatah Jawa tersebut adalah mengerjakan sesuatu dengan dasar yang jelas, dengan cara yang selamat, efektif dan efisien dan tujuan tercapai dengan baik. Prinsip bekerja alon-alon waton kelakon tidak mengisyaratkan untuk kita bersantai-santai atau berleha-leha tetapi lebih mengisyaratkan agar kita tidak terburu-buru dan selalu waspada, silahkan saja orang lain menyalip jika memang mau duluan, yang penting kita menikmati dulu proses optimasi yang kita lakukan, dan kita tidak terlalu bernafsu mengejar yang sudah mendahului, karena perlahan tetapi mantap itu juga sama pentingnya dibandingkan langsung tancap gas tanpa pernah ngerem. Di budaya Jawa juga ada beberapa pepatah lain yang memiliki makna keselamatan seperti; “aja nggege mangsa” yang artinya jangan mempercepat musim atau waktu, makna sejatinya adalah jangan memaksakan diri dalam memperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak memuaskan, janganlah mengejar atau mempercepat produksi tapi mengabaikan keselamatan, nyawa Anda lebih berharga dari waktu yang Anda kejar; “cagak amben cemethi tali” yang bermakna dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit, berbahaya, dan berat diperlukan orang yang benar-benar mumpuni, disini tersirat bahwa bahaya dalam pekerjaan harus diantisipasi dan diperlukan training bagi pekerjanya agar bena-benar mumpuni; “jer basuki mawa beya” yang maknanya untuk mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup senantiasa memperlukan biaya, kerja keras, dan pengorbanan, begitu pula dengan K3, untuk mencapainya perlu investasi tapi percayalah bahwa investasi itu akan menguntungkan. Di budaya Melayu terdapat pepatah “kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang” yang artinya orang yang pandai membawa diri, tentulah selamat hidupnya. Walaupun bermakna umum tapi mengandung arti keselamatan juga. Untuk mencapai suatu tujuan, misal target produksi dengan selamat maka harus bisa melewati pekerjaan di proses produksi dengan memperhatikan aspek keselamatan. Ada juga pepetah Melayu “mencegah lebih baik daripada mengubati” atau “menolak kerosakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan.” Hal ini sesuai dengan program K3 sebaiknya lebih ke preventif dan promotif daripada kuratif. Ada juga peribahasa Melayu “baik jadi ayam betina sepaya selamat&#8221;, maknanya jangan menonjolkan sok berani sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka dengan kata lain hindarilah perilaku yang berisiko dan menantang bahaya. Selain itu ada pepatah Melayu “jangan tergopoh gapah dalam melaksanakan sesuatu perkara” yang artinya mirip dengan “alon-alon waton kelakon.” Di budaya Tionghoa terdapat filosofi “carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja” atau “carilah pekerjaan yang betul-betul kamu senangi, maka seumur hidup kamu tidak perlu lagi menyebutnya bekerja” (Confucius). Walaupun tidak secara explisit menyinggung keselamatan kerja fisik namun secara implisit filosofi ini mempunyai pesan yang senada dengan ergonomi yang merupakan prinsip dari K3 yakni “fitting the job to the man” yakni sesuaikan pekerjaan dengan individu karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik itu karakteristik non fisik maupun fisik (antropometri), sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara selamat dan sehat tidak hanya fisik namun juga mental serta produktif sehingga kualitasnya tinggi. Budaya keselamatan nasional Dalam hal regulasi, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai landasan untuk berbudaya keselamatan terbukti dengan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adanya budaya keselamatan (<em>safety culture</em>) akan sangat mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Apa itu budaya keselamatan? Budaya keselamatan adalah sifat dan sikap dalam organisasi dan individu yang menekankan pentingnya keselamatan. Oleh karena itu, budaya keselamatan mempersyaratkan agar semua kewajiban yang berkaitan dengan keselamatan harus dilaksanakan secara benar, seksama, dan penuh rasa tanggung jawab. Namun budaya di setiap organisasi itu berbeda-beda dan bervariasi karakteristiknya seperti sebuah keluarga yang memiliki perbedaan dari keluarga lainnya. Pertanyaannya apakah sudah banyak organisasi dan individu yang melibatkan keselamatan dalam budayanya?</p>
<p><em>Each organisation has its own culture, its own character-like a family…</em></p>
<p>Walaupun K3 sudah “dianggap penting” dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Salah satu hambatan tersebut tidak lain adalah hambatan sosial budaya (selengkapnya mengenai hambatan dalam K3 lainnya klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/01/hambatan-dalam-k3.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>). Ya ini artinya budaya keselamatan di negara kita masih patut dipertanyakan.</p>
<p>Budaya keselamatan yang masih kurang di negara kita ditandai dengan adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya santai dan tidak peduli dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada budaya mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat / pekerja. Contoh gampangnya jadikanlah pengendara sepeda motor sebagai sampel. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang sangat berkembang di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jalanan di negara kita hampir tidak pernah sepi dari lalu lalang sepeda motor. Sepeda motor sudah bisa menjadi cerminan garis besar gaya hidup dan budaya negara kita saat ini. Namun Anda bisa perhatikan berapa persen dari pengendara sepeda motor itu yang benar-benar mematuhi keselamatan misalnya saja menggunakan helm yang standar atau tidak, jika sudah apakah beltnya dikencangkan atau tidak, berapa persen yang benar-benar mematuhi rambu lalu lintas (termasuk saat lalu lintas sepi dan tidak ada polisi lalu lintas), berapa persen yang benar-benar merawat (maintenance) sepeda motornya dengan baik, bahkan perlu dipertanyakan berapa persen pengendara yang benar-benar bisa menyetir dalam arti benar-benar tahu cara mengendarai sepeda motor di jalan dengan benar dan paham semua rambu lalu lintas, dsb. Konon bahkan budaya keselamatan pengendara motor Indonesia tidak lebih baik dari Vietnam. Apakah pengendara tahu tentang keselamatan? Jawabannya sudah pasti ya, namun kenapa masih belum berjalan? karena keselamatan itu hanya masih dalam sebatas pengetahuan saja (walaupun sebenarnya pengetahuannya juga minim) namun belum membudaya, faktor budaya sangat berpengaruh baik itu budaya individu, keluarga, atau organisasi.</p>
<p>Ada beberapa kendala dalam menciptakan dan menegakkan budaya keselamatan di Indonesia, selengkapnya klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/03/kendala-dalam-menciptakan-safety.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Namun bukan berarti negara dan masyarakat kita sama sekali tidak mempunyai budaya keselamatan. Sebenarnya kita sudah mempunyai beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan untuk memiliki budaya keselamatan. Namun entah kenapa budaya itu masih sulit ditegakan sepenuhnya di masyarakat kita. Beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan budaya keselamatan yang sudah ada di dalam negara dan masyarakat kita antara lain:</p>
<p><strong>Budaya keselamatan dalam budaya dan nilai lokal</strong></p>
<p>Beberapa budaya lokal di negara kita sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai keselamatan seperti budaya Jawa yang memiliki pepatah <em>“gremet-gremet waton selamet”</em> yang artinya merayap asalkan selamat dan <em>”alon-alon waton kelakon”</em> yang artinya pelan-pelan asal selamat (terlaksana). Ini bukan berarti mengajarkan untuk selalu lambat, tapi maksudnya adalah utamakan keselamatan (safety first), setelah keselamatan terjamin barulah kualitas dapat dicapai. Jadi maksud pepatah Jawa tersebut adalah mengerjakan sesuatu dengan dasar yang jelas, dengan cara yang selamat, efektif dan efisien dan tujuan tercapai dengan baik. Prinsip bekerja alon-alon waton kelakon tidak mengisyaratkan untuk kita bersantai-santai atau berleha-leha tetapi lebih mengisyaratkan agar kita tidak terburu-buru dan selalu waspada, silahkan saja orang lain menyalip jika memang mau duluan, yang penting kita menikmati dulu proses optimasi yang kita lakukan, dan kita tidak terlalu bernafsu mengejar yang sudah mendahului, karena perlahan tetapi mantap itu juga sama pentingnya dibandingkan langsung tancap gas tanpa pernah ngerem. Di budaya Jawa juga ada beberapa pepatah lain yang memiliki makna keselamatan seperti; <em>“aja nggege mangsa”</em> yang artinya jangan mempercepat musim atau waktu, makna sejatinya adalah jangan memaksakan diri dalam memperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak memuaskan, janganlah mengejar atau mempercepat produksi tapi mengabaikan keselamatan, nyawa Anda lebih berharga dari waktu yang Anda kejar; <em>“cagak amben cemethi tali”</em> yang bermakna dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit, berbahaya, dan berat diperlukan orang yang benar-benar mumpuni, disini tersirat bahwa bahaya dalam pekerjaan harus diantisipasi dan diperlukan training bagi pekerjanya agar bena-benar mumpuni; <em>“jer basuki mawa beya”</em> yang maknanya untuk mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup senantiasa memperlukan biaya, kerja keras, dan pengorbanan, begitu pula dengan K3, untuk mencapainya perlu investasi tapi percayalah bahwa investasi itu akan menguntungkan.</p>
<p>Di budaya Melayu terdapat pepatah <em>“kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang”</em> yang artinya orang yang pandai membawa diri, tentulah selamat hidupnya. Walaupun bermakna umum tapi mengandung arti keselamatan juga. Untuk mencapai suatu tujuan, misal target produksi dengan selamat maka harus bisa melewati pekerjaan di proses produksi dengan memperhatikan aspek keselamatan. Ada juga pepetah Melayu <em>“mencegah lebih baik daripada mengubati”</em> atau <em>“menolak kerosakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan.”</em> Hal ini sesuai dengan program K3 sebaiknya lebih ke preventif dan promotif daripada kuratif. Ada juga peribahasa Melayu “baik jadi ayam betina sepaya selamat&#8221;, maknanya jangan menonjolkan sok berani sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka dengan kata lain hindarilah perilaku yang berisiko dan menantang bahaya. Selain itu ada pepatah Melayu <em>“jangan tergopoh gapah dalam melaksanakan sesuatu perkara”</em> yang artinya mirip dengan <em>“alon-alon waton kelakon.”</em></p>
<p>Di budaya Tionghoa terdapat filosofi <em>“carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja”</em> atau <em>“carilah pekerjaan yang betul-betul kamu senangi, maka seumur hidup kamu tidak perlu lagi menyebutnya bekerja”</em> (Confucius). Walaupun tidak secara explisit menyinggung keselamatan kerja fisik namun secara implisit filosofi ini mempunyai pesan yang senada dengan ergonomi yang merupakan prinsip dari K3 yakni <em>“fitting the job to the man”</em> yakni sesuaikan pekerjaan dengan individu karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik itu karakteristik non fisik maupun fisik (antropometri), sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara selamat dan sehat tidak hanya fisik namun juga mental serta produktif sehingga kualitasnya tinggi.</p>
<p><strong>Budaya keselamatan nasional</strong></p>
<p>Dalam hal regulasi, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai landasan untuk berbudaya keselamatan terbukti dengan adanya berbagai macam peraturan mengenai keselamatan kerja. Namun apakah pelaksanaannya sudah tegas?</p>
<p>Guna mendukung terlaksananya budaya keselamatan atau K3 di Indonesia sebenarnya Indonesia juga sudah mulai melakukan beberapa langkah seperti mencanangkan bulan K3 nasional sejak 2010 yakni bulan Januari-Februari (selengkapnya mengenai bulan K3 nasional klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/02/bulan-k3-nasional-2012.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>) dan memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan Gerakan Efektif Masyarakat Membudayakan K3 (Gema Daya K3) secara nasional, regional dan bahkan secara internasional. Gema Daya K3 merupakan strategi dalam menyukseskan Gerakan Nasional Pembudayaan K3 yang ditujukan pada peningkatan peran aktif dan potensi masyarakat untuk mewujudkan budaya K3 di setiap tempat kerja dan dalam hal ini pemerintah, baik pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota sebagai motivator Gema Daya K3, maka kegiatan Gema Daya K3 sebagai gerakan bersama-sama, menyeluruh, dan terpadu harus dilaksanakan dengan rasa tanggungjawab secara berjenjang sesuai dengan tata cara sistem pemerintahan saat ini. Selengkapnya mengenai Gema Daya K3 klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/02/sistem-manajemen-k3.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Lalu bagaimana perbandingan budaya keselamatan negara kita dengan negara lain? Jangankan dengan negara maju seperti Jepang, Uni Eropa, atau negara tetangga Singapura, dengan negara-negara sesama negara berkembang di tingkat Asia Tenggara saja seperti Malaysia dan Thailand, K3 di Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Indonesia memang masih harus terus berjuang keras, berperan aktif dan bekerja secara kolektif dalam mendukung cita-cita besar bangsa, yaitu Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkannya adalah ‘Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015’, selengkapnya klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/02/indonesia-berbudaya-k3-tahun-2015.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Memang mayoritas negara yang sukses dengan budaya keselamatannya adalah negara maju namun untuk menjadi negara yang berbudaya keselamatan tidak harus menjadi negara maju terlebih dahulu karena sejatinya keselamatan itu adalah syarat munculnya kualitas yang nantinya justru akan menjadikan negara itu menjadi maju.</p>
<p><strong>Budaya keselamatan dalam dunia profesional / dunia kerja</strong></p>
<p>Di dunia professional / dunia kerja / dunia industri mungkin bisa dibilang memiliki budaya keselamatan yang lebih baik. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang berkiblat ke manajemen dari negara maju seperti Toyota yang menempatkan keselamatan (safety) sebagai elemen utama dalam Toyota Production System (selengkapnya mengenai keselamatan dalam Toyota Production System klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/06/safety-dan-toyota-production-system.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>). Beberapa perusahaan juga sudah menerapkan 1 dari 8 filosofi K3 (<em>International Association of Safety Professional</em>), yakni <em>“safety is a culture, not a program”</em> (selengkapnya mengenai 8 filosofi K3 klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/06/filosofi-kesehatan-dan-keselamatan.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>). Artinya K3 bukan sekedar program yang dijalankan perusahaan untuk sekedar memperoleh penghargaan dan sertifikat. K3 hendaklah menjadi cerminan dari budaya dalam organisasi. Beberapa perusahaan juga sudah “menyelipkan” keselamatan dalam visi dan misi perusahaan mereka yang membuktikan bahwa mereka serius terhadap penerapan budaya keselamatan (selengkapnya mengenai visi dan misi keselamatan klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/11/visi-dan-misi-keselamatan.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>). Hal tersebut cukup menggembirakan dan bisa jadi acuan dan contoh bagi perusahaan-perusahaan lainnya dan kesatuan masyarakat lainnya. Hal ini mengingat masih banyaknya perusahaan yang belum membudayakan keselamatan. Data menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan terjadi di dunia industri Indonesia cukup mengkhawatirkan. Sebagai gambaran sederhana bagaimana budaya keselamatan di industri di negara kita, ada sebuah penelitian yang menilai dan memetakan budaya keselamatan industri manufaktur Indonesia. Dengan skala 1-5 terhadap beberapa sampel perusahaan diperoleh hasil : 2.37 untuk faktor komitmen organisasi, 3.14 untuk faktor keterlibatan manajemen, 3.13 untuk faktor pemberdayaan pekerja, 3.08 untuk faktor komunikasi, 3.05 untuk faktor lingkungan kerja, 3.08 untuk faktor training, dan 3.02 untuk faktor reward/insentif, selengkapnya klik <a rel="nofollow" href="http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=jbptitbpp-gdl-pennicahya-34214" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Jangan berpikir bahwa budaya keselamatan di dunia kerja hanya ada pada industri-industri atau perusahaan-perusahaan besar saja. Mayoritas populasi kerja justru ada di sektor usaha kecil menengah (UKM). Mempekerjakan lebih dari 95 persen populasi kerja di dunia, UKM menjadi sumber lapangan kerja utama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, UKM telah menjadi pendukung bagi pembangunan yang berkelanjutan dan sarana penting dalam menyerap tenaga kerja. Diperkirakan lebih dari 60 persen angkatan kerja saat ini bekerja di UKM. Karena mayoritas angkatan kerja berada di UKM maka budaya keselamatan di UKM ini akan menjadi penentu cerminan budaya keselamatan kerja di Indonesia. UKM masih menghadapi beragam tantangan. Salah satu diantaranya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, seraya meningkatkan K3 serta kondisi kerja. Budaya keselamatan di sektor UKM belum banyak tersentuh, namun ini justru menjadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki K3 di UKM. Budaya keselamatan di perusahaan-perusahaan ternama bisa diteladani sebagai upaya untuk menerapkan K3 secara efektif dan efisien sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan pelaksanaan budaya K3 di UKM untuk mengurangi kecelakaan kerja seraya meningkatkan produktivitas dan daya saing.</p>
<p><strong>Budaya keselamatan dalam agama</strong></p>
<p>Masyarakat negara kita adalah masyarakat yang beragama. Agama menjadi salah satu faktor dominan yang mempengaruhi budaya masyarakat termasuk budaya keselamatan. Karena itu agama bisa jadi faktor pendorong munculnya budaya keselamatan di masyarakat kita. Bagi Anda yang muslim bisa melihat hubungan Islam dan K3, selengkapnya klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/06/k3-dan-islam.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana cara untuk meningkatkan dan “menyuburkan” budaya keselamatan tersebut?</strong></p>
<p>Jawabannya adalah dengan komitmen dan kepemimpinan (leadership). Komitmen untuk keselamatan akan muncul jika setiap organisasi atau individu dengan jelas memahami manfaat positif yang diperoleh dari keselamatan tersebut. Memahami manfaat akan menciptakan keinginan yang kuat untuk meningkatkan budaya keselamatan dan selanjutnya organisasi atau individu akan menginvestasikan waktu dan uang secara serius ke manajemen dan program keselamatan yang efektif (inilah komitmen). Selengkapnya mengenai komitmen keselamatan klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/11/komitmen-terhadap-ergonomi-k3.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Kepemimpinan / leadership juga erat hubungannya dengan budaya. Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam setiap program di organisasi atau kesatuan masyarakat termasuk program-program keselamatan. Setiap hari, pemimpin seperti mandor, supervisor, manajer, bupati, gubernur, pemimpin keluarga dll memiliki banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan bertindak dengan cara yang menunjukkan kepemimpinannya dalam hal keselamatan (safety leadership). Sayangnya, peluang tersebut sering tidak terjawab karena mereka tidak memandang ini sebagai peluang. Mereka sering tidak mengerti bahwa ekspresi sederhana dalam kepemimpinan untuk safety dapat menghasilkan manfaat besar. Ketidakmampuan untuk melihat peluang kepemimpinan ini sama saja dengan membatasi potensi perusahaan atau organisasi untuk berhasil.</p>
<p>Setiap individu pada semua tingkat organisasi atau kesatuan masyarakat adalah orang-orang yang mencoba untuk melakukan terbaik yang mereka bisa dengan apa yang mereka punya. Masalahnya adalah, mereka tidak selalu memiliki sumber daya fisik dan dukungan psikososial untuk mencapai hasil yang diharapkan. Mungkin karena pemimpin tidak menyediakan sumber daya tersebut. Mengapa? Pada akhirnya, budaya lah yang tidak mendukung kepemimpinan dan manajemen termasuk dalam kepemimpinan dan manajemen keselamatan yang efektif. Namun bagaimanapun pemimpin lah yang seharusnya bisa menciptakan atau mengarahkan budaya pada orang-orang yang dipimpinnya tersebut termasuk dalam budaya keselamatan. Ya, budaya dan kepemimpinan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu efektifitas dari program keselamatan sangat tergantung dari budaya dan kepemimpinan. Selengkapnya mengenai kepemimpinan dalam keselamatan klik <a rel="nofollow" href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/11/budaya-dan-kepemimpinan-dalam-ergonomi.html" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.<br />
<em><br />
Safety culture is not an end state&#8211;but an ongoing process&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
If the supply of energy stops &#8211;safety culture degenerates</em></p>
<p><a rel="attachment wp-att-1158" href="http://www.artikelk3.com/k3-dan-budaya-keselamatan.html/safety-culture"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1158" src="public_html/wp-content/uploads/safety-culture-300x122.jpg" alt="" width="300" height="122" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-1158" href="http://www.artikelk3.com/k3-dan-budaya-keselamatan.html/safety-culture"></a><em>Andai saja semua orang menghargai betapa berharganya arti keselamatan……………..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/k3-dan-budaya-keselamatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Safety pada Sistem Produksi Toyota</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/safety-pada-sistem-produksi-toyota.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/safety-pada-sistem-produksi-toyota.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 14:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1155</guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang bekerja atau mempunyai latar belakang pendidikan di bidang industri pasti tidak asing dengan Sistem Produksi Toyota / Toyota Production System (TPS). Sistem Produksi Toyota bisa dibilang merupakan kiblatnya sistem produksi di industri terutama untuk industri manufaktur. Di pabrik-pabrik di seluruh dunia, Toyota dengan menggunakan sistem produksinya secara konsisten menaikkan standar untuk manufaktur, pengembangan produk, dan proses kesempurnaan. Hasilnya adalah sebuah kisah sukses bisnis yang luar biasa. Toyota dengan mantap mengambil pangsa pasar, jauh lebih menghasilkan keuntungan daripada mobil lain, dan memenangkan pujian dari para pemimpin bisnis di seluruh dunia. Sistem Produksi Toyota bisa dibilang merevolusi global bidang industri manufaktur dan industri lainnya termasuk jasa. Sistem Produksi Toyota berkembang sebagai sebuah paradigma baru dari keunggulan manufaktur. Bahkan industri-industri non manufaktur seperti kesehatan, farmasi, konstruksi juga banyak yang menggunakan metode Sistem Produksi Toyota dan secara dramatis meningkatkan kinerja mereka. Kisah-kisah sukses industri yang menerapkan Sistem Produksi Toyota disebabkan tidak lain karena Sistem Produksi Toyota memberikan manfaat utama sebagai berikut: Quality; kualitas melekat dalam produk. Cost; biaya terjaga tetap minimum dengan return on investment yang baik. Delivery; pengiriman tepat waktu, dan dengan standar yang diharapkan, memungkinkan pelanggan untuk merencanakan dan menjaga operasi mereka berhasil Environment; isu lingkungan hidup juga diperhatikan, mulai dari manufaktur sampai ke daur ulang pada akhir masa produk. Safety; keselamatan menjadi perhatian yang utama, baik untuk pekerja dan bagi pelanggan. Untuk mengetahui gambaran sekilas mengenai Sistem Produksi Toyota dan posisi safety didalamnya bisa dilihat pada gambar House of Toyota, klik disini. Safety atau keselamatan menjadi bagian penting dari Sistem Produksi Toyota. Sistem Produksi Toyota sangatlah menjunjung tinggi dua prioritas, yaitu mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Sedikit berbeda dengan budaya yang umum yang hanya faktor kualitas saja yang jauh lebih diutamakan, sedangkan masalah keselamatan dan kesehatan kerja kurang diperhatikan. Safety selalu ada dalam semua filosofi dan praktik yang saling melengkapi yang membentuk Toyota Production System, bukan hanya menjadi prioritas tapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Upaya tak kenal lelah Toyota untuk melakukan hal-hal dalam cara terbaik mungkin tidak akan pernah bisa tercapai jika keselamatan harus dikompromikan dan dipertaruhkan apalagi hanya karena alasan efisiensi atau penghematan. Pada Sistem Produksi Toyota, ketika proses produksi diperbaiki untuk meningkatkan kualitas, aspek safety juga ikut ditingkatkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi yang bekerja atau mempunyai latar belakang pendidikan di bidang industri pasti tidak asing dengan Sistem Produksi Toyota / Toyota Production System (TPS). Sistem Produksi Toyota bisa dibilang merupakan kiblatnya sistem produksi di industri terutama untuk industri manufaktur.</p>
<p>Di pabrik-pabrik di seluruh dunia, Toyota dengan menggunakan sistem produksinya secara konsisten menaikkan standar untuk manufaktur, pengembangan produk, dan proses kesempurnaan. Hasilnya adalah sebuah kisah sukses bisnis yang luar biasa. Toyota dengan mantap mengambil pangsa pasar, jauh lebih menghasilkan keuntungan daripada mobil lain, dan memenangkan pujian dari para pemimpin bisnis di seluruh dunia.</p>
<p>Sistem Produksi Toyota bisa dibilang merevolusi global bidang industri manufaktur dan industri lainnya termasuk jasa. Sistem Produksi Toyota berkembang sebagai sebuah paradigma baru dari keunggulan manufaktur. Bahkan industri-industri non manufaktur seperti kesehatan, farmasi, konstruksi juga banyak yang menggunakan metode Sistem Produksi Toyota dan secara dramatis meningkatkan kinerja mereka.</p>
<p>Kisah-kisah sukses industri yang menerapkan Sistem Produksi Toyota disebabkan tidak lain karena Sistem Produksi Toyota memberikan manfaat utama sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Quality</strong>; kualitas melekat dalam produk.</li>
<li><strong>Cost</strong>; biaya terjaga tetap minimum dengan return on investment yang baik.</li>
<li><strong>Delivery</strong>; pengiriman tepat waktu, dan dengan standar yang diharapkan, memungkinkan pelanggan untuk merencanakan dan menjaga operasi mereka berhasil</li>
<li><strong>Environment</strong>; isu lingkungan hidup juga diperhatikan, mulai dari manufaktur sampai ke daur ulang pada akhir masa produk.</li>
<li><strong>Safety</strong>; keselamatan menjadi perhatian yang utama, baik untuk pekerja dan bagi pelanggan.</li>
</ul>
<p>Untuk mengetahui gambaran sekilas mengenai Sistem Produksi Toyota dan posisi safety didalamnya bisa dilihat pada gambar House of Toyota, klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/06/safety-dan-toyota-production-system.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Safety atau keselamatan menjadi bagian penting dari Sistem Produksi Toyota. Sistem Produksi Toyota sangatlah menjunjung tinggi dua prioritas, yaitu mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Sedikit berbeda dengan budaya yang umum yang hanya faktor kualitas saja yang jauh lebih diutamakan, sedangkan masalah keselamatan dan kesehatan kerja kurang diperhatikan. Safety selalu ada dalam semua filosofi dan praktik yang saling melengkapi yang membentuk Toyota Production System, bukan hanya menjadi prioritas tapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Upaya tak kenal lelah Toyota untuk melakukan hal-hal dalam cara terbaik mungkin tidak akan pernah bisa tercapai jika keselamatan harus dikompromikan dan dipertaruhkan apalagi hanya karena alasan efisiensi atau penghematan. Pada Sistem Produksi Toyota, ketika proses produksi diperbaiki untuk meningkatkan kualitas, aspek safety juga ikut ditingkatkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/safety-pada-sistem-produksi-toyota.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komponen Utama Asap Rokok</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/komponen-utama-asap-rokok.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/komponen-utama-asap-rokok.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 17:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya merokok]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya TAR]]></category>
		<category><![CDATA[kandungan dalam rongkok]]></category>
		<category><![CDATA[komponen utama asap rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1150</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin kita sudah memberi tips 4 persiapan berhenti merokok. Jika sahabat artkelk3 masih tetap merokok, coba kita bahas kandungan utama Asap Rokok. Komponen utama yang terkandung dalam asap rokok adalah nkotin, karbon monoksida dan tar. Ketiga komponen tersebut sangat merugikan kesehatan. a. Nikotin: mampu diserap darah dan mempengaruhi otak dalam waktu 10 detik. Jika kadar nikotin di dalam darah kurang perokok umumnya akan merasa kecanduan, gelisah, keletihan, sakit kepala, iritasi, kelaparan, sulit berkonsentrasi, atau merasa takut. Gejala ini akan hilang jika ia merokok lagi. b. Karbon monoksida: gas beracun yang ada di permbuangan mobil dan mampu mengurangi kada oksigen di dalam darah. Padahal oksigen sangat penting untuk organ tubuh dan untuk tetap hidup. Kekurangan oksigen mengakibatkan perubahan permanen pada darah, yaitu membuat darah lebih padat. Kondisi ini mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras. c. Tar: mengandung banyak bahan dan sudah dibuktikan mengakibatkan kanker. Bahan iritasi yang ada di dalamtar dapat merusak paru-paru, menciutkan saluran yang berfungsi melindungi paru-paru dari debu dan infeksi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin kita sudah memberi tips 4 persiapan berhenti merokok. Jika sahabat artkelk3 masih tetap merokok, coba kita bahas kandungan utama Asap Rokok.</p>
<p>Komponen utama yang terkandung dalam asap rokok adalah nkotin, karbon monoksida dan tar. Ketiga komponen tersebut sangat merugikan kesehatan.</p>
<p><strong>a. Nikotin: </strong>mampu diserap darah dan mempengaruhi otak dalam waktu 10 detik. Jika kadar nikotin di dalam darah kurang perokok umumnya akan merasa kecanduan, gelisah, keletihan, sakit kepala, iritasi, kelaparan, sulit berkonsentrasi, atau merasa takut. Gejala ini akan hilang jika ia merokok lagi.</p>
<p><strong>b. Karbon monoksida: </strong>gas beracun yang ada di permbuangan mobil dan mampu mengurangi kada oksigen di dalam darah. Padahal oksigen sangat penting untuk organ tubuh dan untuk tetap hidup. Kekurangan oksigen mengakibatkan perubahan permanen pada darah, yaitu membuat darah lebih padat. Kondisi ini mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras.</p>
<p><strong>c. Tar:</strong> mengandung banyak bahan dan sudah dibuktikan mengakibatkan kanker. Bahan iritasi yang ada di dalamtar dapat merusak paru-paru, menciutkan saluran yang berfungsi melindungi paru-paru dari debu dan infeksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/komponen-utama-asap-rokok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Persiapan Berhenti Merokok</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/4-persiapan-berhenti-merokok.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/4-persiapan-berhenti-merokok.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 18:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Solving]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Toolbox Talk]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana cara berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[cara berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan berhenti merokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[Bagi perokok aktif, berhenti merokok adalah sesuatu yang teramat sulit. Akan tetapi berhenti merokok bukanlah sesuatu yang mustahil. Tidak sedikit para perokok berat berhenti seketika ketika ia mengalami masalah kesehatan yang hampir merenggut nyawa dikarenakan oleh rokok. Tentunya sahabat artikel K3 tidak ingin hal demikian terjadi dulu baru berhenti merokok. Berikut ini 4 persiapan untuk berhenti merokok. Menetapkan keinginan dan niat untuk berhenti merokok sesegera mungkin. Perhatikan kapan dan apa alasan seseorang merokok. Coba untuk menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan rasa ingin merokok, misalnya sambil minum kopi di pagi hari. Mengubah kebiasaan merokok, misalnya merokok di tempat lain yang berbeda. Jangan melakukan hal lain selama merokok. Merokok hanya di tempat tertentu, misalnya di halaman Jika ingin merokok, tunggu beberaa menit. COba pikirkan sesuatu yang bisa dilakukan selain merokok, seperti mengunyah permen karet atau minum segelas air. Tepat sebelum berhenti merokok, buanglah semua rokok, korek api, dan asbak. Semoga pesiapan berhenti merokok anda sukses dan secara penuh bebas dari rokok yang dapat merugikan kesehatan Anda. Jika sahabat artikel K3 memiliki persiapan atau tips berhenti merokok lainnya, silahkan meninggalkan komentar di artikel ini atau di fan page facebook artikel K3.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi perokok aktif, berhenti merokok adalah sesuatu yang teramat sulit. Akan tetapi berhenti merokok bukanlah sesuatu yang mustahil. Tidak sedikit para perokok berat berhenti seketika ketika ia mengalami masalah kesehatan yang hampir merenggut nyawa dikarenakan oleh rokok. Tentunya sahabat artikel K3 tidak ingin hal demikian terjadi dulu baru berhenti merokok.</p>
<p>Berikut ini 4 persiapan untuk berhenti merokok.</p>
<ol>
<li>Menetapkan keinginan dan niat untuk berhenti merokok sesegera mungkin. Perhatikan kapan dan apa alasan seseorang merokok. Coba untuk menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan rasa ingin merokok, misalnya sambil minum kopi di pagi hari. Mengubah kebiasaan merokok, misalnya merokok di tempat lain yang berbeda. Jangan melakukan hal lain selama merokok.</li>
<li>Merokok hanya di tempat tertentu, misalnya di halaman</li>
<li>Jika ingin merokok, tunggu beberaa menit. COba pikirkan sesuatu yang bisa dilakukan selain merokok, seperti mengunyah permen karet atau minum segelas air.</li>
<li>Tepat sebelum berhenti merokok, buanglah semua rokok, korek api, dan asbak.</li>
</ol>
<p>Semoga pesiapan berhenti merokok anda sukses dan secara penuh bebas dari rokok yang dapat merugikan kesehatan Anda.</p>
<p>Jika sahabat artikel K3 memiliki persiapan atau tips berhenti merokok lainnya, silahkan meninggalkan komentar di artikel ini atau di fan page facebook artikel K3.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/4-persiapan-berhenti-merokok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan ambil &#8220;Jalan Pintas&#8221;</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/jangan-ambil-jalan-pintas.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/jangan-ambil-jalan-pintas.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 00:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Toolbox Talk]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya jalan pintas]]></category>
		<category><![CDATA[jalan pintas]]></category>
		<category><![CDATA[kecerobohan]]></category>
		<category><![CDATA[melanggar aturan keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan berbahaya jalan pintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua, pada suatu tertentu, telah membiarkan diri kita dalam keadaan tanpa pelindung terhadap cidera pada kecelakaan yang mungkin terjadi dengan mengambil jalan pintas padahal beberapa langkah ekstra berati jalan yang aman. Kita melakukannya seperti anak kecil ketika kita melompati pagar dan tidak menggunakan pintu, dan kita melakukannya seperti orang dewasa ketika menyeberang jalan diantara persimpangan dan bukan disudut jalan. Banyak orang, seperti yang digambarkan dengan jelas dalam statistik kecelakaan, memperlihatkan pengabaian yang hampir lengkap karena fakta bahwa pelanggaran-pelanggaran keselamatan kecil mungkin mengandung konsekuensi serius. Jika setiap dari anda mempunyai kebiasaan mengambil jalan pintas, kita berharap anda harus meninggalkan kebiasaan itu sekarang juga. Dalam kerja kita, jalan pintas dapat menjadi sangat berbahaya. Kita semua  mengetahui insiden-insiden dimana tindakan kurang hati-hati menjadi penyebab langsung suatu kecelakaan. Kita mengetahui suatu kasus dimana segenap tukang besi mencoba melintasi  suatu bagian terbuka dengan berayun diatas tangkai beton. Tangannya terpeleset dan dia jatuh kelantai beton setinggi 20 kaki. Apabila dia berusaha mengambil sedikit waktu untuk berjalan memutar kebagian yang terbuka, kemungkinan besar dia sudah mengingat tangkai tersebut. Tak seorangpun diantara kita harus membiarkan  diri tanpa pelindung terhadap bahaya dengan cara yang sama. Adalah pasti bahwa, jalan yang aman tidak selalu jalan yang tersingkat, tetapi memilih jalan yang aman adalah tanggung jawab anda sendiri. Apabila anda diperintahkan untuk pergi bekerja didaerah tertentu, anda diharapkan mengambil jalan yang aman &#8211; tidak yang lebih singkat atau yang lebih berbahaya. Tidak seorangpun selalu beruntung &#8211; kita semua harus waspada. Jika tidak ada jalan yang aman pada suatu penugasan kerja tertentu, usahakan agar suatu jalan masuk yang aman tersedia. Tangga atau steger disediakan untuk bekerja ditempat tinggi. Gunakanlah. Meskipun kerja di tempat tinggi mungkin  membutuhkan hanya beberapa menit, janganlah naik untuk pekerjaan yang salah atau suatu pijakan yang tidak siap. Anak tangga, tangga tetap, atau trap disediakan bagi anda untuk pergi dari satu ketinggian ketempat lainnya. Jika mereka tidak ada, sediakan waktu agar dipasang. Tanggung jawab anda yang utama adalah terhadap diri anda sendiri. Ingat bahwa tangga, anak tangga dan jalan  telah dibangun untuk menghindarkan anda dari kesulitan anda menyelamatkan jiwa anda. Gunakanlah. Jika anda melihat seseorang mengambil jalan pintas, peringatkan mereka terhadap bahaya yang timbul dan sampaikan hal itu untuk perhatian pengawas anda. Mempertaruhkan beberapa menit dan sedikit tenaga terhadap rasa sakit dan derita yang mungkin seumur hidup merupakan taruhan yang buruk. NYAWA YANG ANDA SELAMATKAN MUNGKIN MILIK ANDA SENDIRI !]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua, pada suatu tertentu, telah membiarkan diri kita dalam keadaan tanpa pelindung terhadap cidera pada kecelakaan yang mungkin terjadi dengan mengambil <strong>jalan pintas</strong> padahal beberapa langkah ekstra berati jalan yang aman. Kita melakukannya seperti anak kecil ketika kita melompati pagar dan tidak menggunakan pintu, dan kita melakukannya seperti orang dewasa ketika menyeberang jalan diantara persimpangan dan bukan disudut jalan.</p>
<p>Banyak orang, seperti yang digambarkan dengan jelas dalam statistik kecelakaan, memperlihatkan pengabaian yang hampir lengkap karena fakta bahwa pelanggaran-pelanggaran keselamatan kecil mungkin mengandung konsekuensi serius. Jika setiap dari anda mempunyai kebiasaan mengambil <em>jalan pintas</em>, kita berharap anda harus meninggalkan kebiasaan itu sekarang juga. Dalam kerja kita, <span style="text-decoration: underline;">jalan pintas</span> dapat menjadi sangat berbahaya. Kita semua  mengetahui insiden-insiden dimana tindakan kurang hati-hati menjadi penyebab langsung suatu kecelakaan.</p>
<p>Kita mengetahui suatu kasus dimana segenap tukang besi mencoba melintasi  suatu bagian terbuka dengan berayun diatas tangkai beton. Tangannya terpeleset dan dia jatuh kelantai beton setinggi 20 kaki. Apabila dia berusaha mengambil sedikit waktu untuk berjalan memutar kebagian yang terbuka, kemungkinan besar dia sudah mengingat tangkai tersebut. Tak seorangpun diantara kita harus membiarkan  diri tanpa pelindung terhadap bahaya dengan cara yang sama.</p>
<p>Adalah pasti bahwa, jalan yang aman tidak selalu jalan yang tersingkat, tetapi memilih jalan yang aman adalah tanggung jawab anda sendiri. Apabila anda diperintahkan untuk pergi bekerja didaerah tertentu, anda diharapkan mengambil jalan yang aman &#8211; tidak yang lebih singkat atau yang lebih berbahaya. Tidak seorangpun selalu beruntung &#8211; kita semua harus waspada. Jika tidak ada jalan yang aman pada suatu penugasan kerja tertentu, usahakan agar suatu jalan masuk yang aman tersedia.</p>
<p>Tangga atau steger disediakan untuk bekerja ditempat tinggi. Gunakanlah. Meskipun kerja di tempat tinggi mungkin  membutuhkan hanya beberapa menit, janganlah naik untuk pekerjaan yang salah atau suatu pijakan yang tidak siap.</p>
<p>Anak tangga, tangga tetap, atau trap disediakan bagi anda untuk pergi dari satu ketinggian ketempat lainnya. Jika mereka tidak ada, sediakan waktu agar dipasang.</p>
<p>Tanggung jawab anda yang utama adalah terhadap diri anda sendiri. Ingat bahwa tangga, anak tangga dan jalan  telah dibangun untuk menghindarkan anda dari kesulitan anda menyelamatkan jiwa anda. Gunakanlah. Jika anda melihat seseorang mengambil jalan pintas, peringatkan mereka terhadap bahaya yang timbul dan sampaikan hal itu untuk perhatian pengawas anda.</p>
<p>Mempertaruhkan beberapa menit dan sedikit tenaga terhadap rasa sakit dan derita yang mungkin seumur hidup merupakan taruhan yang buruk.</p>
<p>NYAWA YANG ANDA SELAMATKAN MUNGKIN MILIK ANDA SENDIRI !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/jangan-ambil-jalan-pintas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pos Pertolongan Pertama (P3K) &amp; Perlengkapannya</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/pos-pertolongan-pertama-p3k-perlengkapannya.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/pos-pertolongan-pertama-p3k-perlengkapannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 07:17:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Toolbox Talk]]></category>
		<category><![CDATA[fasiltias pertolongan pertama]]></category>
		<category><![CDATA[kitak PPGD]]></category>
		<category><![CDATA[kotak p3k]]></category>
		<category><![CDATA[penenmpatan dan tampilan]]></category>
		<category><![CDATA[per-15/men/viii/2008]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan pemerritnah tentang P3K]]></category>
		<category><![CDATA[persyaratan ruangan p3k]]></category>
		<category><![CDATA[pos P3K]]></category>
		<category><![CDATA[pos pertolongan pertama]]></category>
		<category><![CDATA[standar ISO]]></category>
		<category><![CDATA[warna kotak p3k]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[Artikelk3.com &#8211; Postpertolongan pertama &#38; perlengkapannya adalah hal yang wajib tersedia di lokasi kerja. Perusahaan harus menyadari kebtuhan post pertolongan pertama. Tuang pertolongan pertama beserta kelengkapannya harus diawasi dan di bawah tanggung jawab orang yang tepat dan terlatih. Persyaratan Pos Pertolongan Pertama Ukuran ruangan memadai. Penerangan dan ventilasi dalam ruangan harus baik. Mudah diakses dan aksesnya memadai bila pasien harus dipindahkan dengan kursi roda atau tandu. Ruangan juga punya akses yang mudah ke toilet. Ruangan sendiri terdiri dari sebagai berikut wastafel dengan keran air panas dan dingin, sabun dan tissue pengering Kursi kerja beserta troli Lemari tempat penyiapan obat-obatan, balutan dan linen Tempat sampah medis Stop kontak listrik Tempat tidur periksa dengan bantal dan selimut Kursi Tirai atau kain penyekat yang mudah dipindahkan Meja dan telepon Tandu dan perlengkapan untuk memindahkan pasien Kotak PPGD yang sesuai dengan lingkungan kerja Sumber penerangan yang memadai Mobil Ambulan jika diperlukan Kotak PPGD atau biasa disebut kotak P3K Kotak PPGD ini terdiri dari sejumlah alat yang diugnakan dalam memberi pertolongan pertama. Kotak PPGD dapat dibuat berbeda, isinya tergantung kebutuhan, Variasi antar tempat dapat terjadi karena menyesuaikan dengan peraturan pemerintah dan organisasi itu sendiri. Penempatan dan Tampilan Wadah PPGD dapat berupa kotak plastik, tas, atau lemari kecil yang menempel di dinding. Jenis dari wadah tersebut tergantung pada tujuannya dan ukurannya dapat bervariasi dari sebesar dompet sampai ransel besar. Dalam standar internasional (ISO) dan peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no.PER-15/MEN/VIII/2008 menyebutkan bahwa warna standar untuk Kotak PPGD adalah hijau dengan tanda palang putih agar mudah dikenali oleh setiap orang yang membutuhkannya. Kotak PPGD secara komersial dijual bebas dan umumnya hanya untuk pertolongan pada cidera ringan. Peraturan Lokal mengenai Post Pertolongan Pertama Berdasarkan regulasi nasional mengenai keselamatan di tempat kerja, Peraturan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi PER-15/MEN/VIII/2008 mengenai pertolongan pertama di tempat kerja adalah setiap perusahaan wajib menyediakan fasilitas pertolongan pertama di tempat kerja sebagai berikut; Ruang Pertolongan  Pertama Kotak PPGD beserta isinya. Perlengkapan evakuasi dan transportasi. Peralatan tambahan, seperti perlindung diri  bagi pekerja yang bekerja di lingkungan dengan resiko tinggi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.artikelk3.com">Artikelk3.com</a> &#8211; Postpertolongan pertama &amp; perlengkapannya adalah hal yang wajib tersedia di lokasi kerja. Perusahaan harus menyadari kebtuhan post pertolongan pertama. Tuang pertolongan pertama beserta kelengkapannya harus diawasi dan di bawah tanggung jawab orang yang tepat dan terlatih.</p>
<p><strong>Persyaratan Pos Pertolongan Pertama</strong></p>
<p>Ukuran ruangan memadai. Penerangan dan ventilasi dalam ruangan harus baik. Mudah diakses dan aksesnya memadai bila pasien harus dipindahkan dengan kursi roda atau tandu. Ruangan juga punya akses yang mudah ke toilet.</p>
<p>Ruangan sendiri terdiri dari sebagai berikut</p>
<ul>
<li>wastafel dengan keran air panas dan dingin, sabun dan tissue pengering</li>
<li>Kursi kerja beserta troli</li>
<li>Lemari tempat penyiapan obat-obatan, balutan dan linen</li>
<li>Tempat sampah medis</li>
<li>Stop kontak listrik</li>
<li>Tempat tidur periksa dengan bantal dan selimut</li>
<li>Kursi</li>
<li>Tirai atau kain penyekat yang mudah dipindahkan</li>
<li>Meja dan telepon</li>
<li>Tandu dan perlengkapan untuk memindahkan pasien</li>
<li>Kotak PPGD yang sesuai dengan lingkungan kerja</li>
<li>Sumber penerangan yang memadai</li>
<li>Mobil Ambulan jika diperlukan</li>
</ul>
<p><strong>Kotak PPGD atau biasa disebut kotak P3K</strong></p>
<p>Kotak PPGD ini terdiri dari sejumlah alat yang diugnakan dalam memberi pertolongan pertama. Kotak PPGD dapat dibuat berbeda, isinya tergantung kebutuhan, Variasi antar tempat dapat terjadi karena menyesuaikan dengan peraturan pemerintah dan organisasi itu sendiri.</p>
<p><strong>Penempatan dan Tampilan</strong></p>
<p>Wadah PPGD dapat berupa kotak plastik, tas, atau lemari kecil yang menempel di dinding. Jenis dari wadah tersebut tergantung pada tujuannya dan ukurannya dapat bervariasi dari sebesar dompet sampai ransel besar. Dalam standar internasional (ISO) dan peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no.PER-15/MEN/VIII/2008 menyebutkan bahwa warna standar untuk Kotak PPGD adalah hijau dengan tanda palang putih agar mudah dikenali oleh setiap orang yang membutuhkannya.</p>
<p>Kotak PPGD secara komersial dijual bebas dan umumnya hanya untuk pertolongan pada cidera ringan.</p>
<p><strong>Peraturan Lokal mengenai Post Pertolongan Pertama</strong></p>
<p>Berdasarkan regulasi nasional mengenai keselamatan di tempat kerja, Peraturan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi PER-15/MEN/VIII/2008 mengenai pertolongan pertama di tempat kerja adalah setiap perusahaan wajib menyediakan fasilitas pertolongan pertama di tempat kerja sebagai berikut;</p>
<ul>
<li>Ruang Pertolongan  Pertama</li>
<li>Kotak PPGD beserta isinya.</li>
<li>Perlengkapan evakuasi dan transportasi.</li>
<li>Peralatan tambahan, seperti perlindung diri  bagi pekerja yang bekerja di lingkungan dengan resiko tinggi.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/pos-pertolongan-pertama-p3k-perlengkapannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Dasar PPGD</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/pengetahuan-dasar-ppgd.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/pengetahuan-dasar-ppgd.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 06:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Training K3]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian PPGD]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan dasar PPGD]]></category>
		<category><![CDATA[Pertolongan Pertama gawat darurat]]></category>
		<category><![CDATA[PPGD]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip dasar PPGD]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip The Good Samaritan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[ArtikelK3.com &#8211; Pertolongan pertama Gawat Darurat merupakan tindakan atau perawatan awal yang diberikan terhadap seseorang yang tiba-tiba mengalami sakit atau cidera. Prinsip pertolongan pertama yang dipelajari melalui buku manual atau program training tertentu tidaklah sama dengan kenyataan yang aka dihadapi di lapangan. Kebanyakan dari penolong pertama akan mereasa takut ketika berhadapan dengan situasi yang sebenarnya. Prinsip pertolongan Pertama Gawat Darurat bukanlah ilmu pasti, ada kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi. Bahkan dengan tindakan perawatan yang sesuai pun mungkin korban tidak akan memberikan respon sesuai dengan yang kita harapka, tidak peduli seberapa kuat usaha ANda. Jika Anda melakukan yang terbaik, maka hati nurani Anda adalah benar. Aturan emas dalam prinsip PPGD adalah &#8220;Jangan membahayakan korban&#8221;/ Seorang penolong pertama harus menggunakan tindakan yang paling mungkin bermanfaat bagi korban, dan tidak melakukan tindakan yang Anda tidak yakini. Prinsip &#8220;The Good Samaritan&#8221; (orang Samaria yang baik) dapat membantu seseorang yang secara sukarela menolong orang lain yang tiba-tiba sakit atau cidera dari kemungkinan tuntutan karena melakukan yang salah. Prinsip tersebut dalam situasi darurat untuk memberikan bantuan kepada orang lain, tanpa melampaui batas-batas yang berlaku. Jika Anda memutuskan untuk menolong seseorang yang tiba-tiba cidera atau sakit, ANda tidak boleh meninggalkan korban jika lingkungan sekitar Anda menjadi sangat berbahaya. Sumber: Buku Panduan PPGD Level 2 &#8211; ISOS]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.artikelk3.com" target="_blank">ArtikelK3.com</a> &#8211; Pertolongan pertama Gawat Darurat merupakan tindakan atau perawatan awal yang diberikan terhadap seseorang yang tiba-tiba mengalami sakit atau cidera. Prinsip pertolongan pertama yang dipelajari melalui buku manual atau program training tertentu tidaklah sama dengan kenyataan yang aka dihadapi di lapangan. Kebanyakan dari penolong pertama akan mereasa takut ketika berhadapan dengan situasi yang sebenarnya.</p>
<p>Prinsip pertolongan Pertama Gawat Darurat bukanlah ilmu pasti, ada kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi. Bahkan dengan tindakan perawatan yang sesuai pun mungkin korban tidak akan memberikan respon sesuai dengan yang kita harapka, tidak peduli seberapa kuat usaha ANda. Jika Anda melakukan yang terbaik, maka hati nurani Anda adalah benar.</p>
<p>Aturan emas dalam prinsip PPGD adalah &#8220;Jangan membahayakan korban&#8221;/ Seorang penolong pertama harus menggunakan tindakan yang paling mungkin bermanfaat bagi korban, dan tidak melakukan tindakan yang Anda tidak yakini.</p>
<p>Prinsip &#8220;The Good Samaritan&#8221; (orang Samaria yang baik) dapat membantu seseorang yang secara sukarela menolong orang lain yang tiba-tiba sakit atau cidera dari kemungkinan tuntutan karena melakukan yang salah. Prinsip tersebut dalam situasi darurat untuk memberikan bantuan kepada orang lain, tanpa melampaui batas-batas yang berlaku.</p>
<p>Jika Anda memutuskan untuk menolong seseorang yang tiba-tiba cidera atau sakit, ANda tidak boleh meninggalkan korban jika lingkungan sekitar Anda menjadi sangat berbahaya.</p>
<p><em>Sumber: Buku Panduan PPGD Level 2 &#8211; ISOS</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/pengetahuan-dasar-ppgd.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesi di Bidang K3</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/profesi-di-bidang-k3.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/profesi-di-bidang-k3.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 18:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1130</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan akan keselamatan dan kesehatan kerja di masyarakat semakin meningkat sebagai dampak dari globalisasi dan perdagangan bebas. Keberadaan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan menjamin perkembangan investasi industri di Indonesia. Kebutuhan K3 yang semakin meningkat tidak hanya pada masyarakat industri (sektor formal) tetapi juga penting bagi masyarakat khususnya pelaku sektor usaha skala kecil dan menengah (small medium enterprise). Oleh karena itu,profesi di bidang K3 pun makin banyak dibutuhkan. Namun antusiasme masyarakat untuk mengambil pendidikan atau profesi di bidang ini nampaknya masih kurang. Mungkin karena bidang ini tidak sepopuler bidang yang lain, padahal bidang K3 merupakan bidang yang menarik. Profesi K3 banyak ragamnya, diantaranya sebagai konsultan K3, tenaga profesional di industri / perusahaan, pengajar/akademisi, peneliti, dsb. K3 umunya dijadikan satu dengan bidang lingkungan (K3L) atau dalam bahasa Inggris disebut EHS (environment, health &#38; safety), begitu pula di perusahaan, divisi yang mengurusi bidang ini dinamai divisi EHS (ada juga yang menamai HSE, SHE dsb yang pada intinya sama). Oleh karena itu, professional-profesional K3 yang bekerja di industri / perusahaan berada di divisi ini. Istilah dan jabatan dalam divisi ini beragam mulai dari safety officer, EHS staff atau semacamnya, selengkapnya klik disini. Kesehatan kerja atau K3 dalam sistemnya yang utuh tersusun atas empat komponen yakni (1) promosi kesehatan pekerja, (2) higiene Industri, (3) ergonomi industri, (4) pengembangan organisasi kerja dan budaya yang mendukung kesehatan. Karena itu jobdesk atau tugas profesi K3 juga pasti tidak akan jauh-jauh dari keempat komponen tersebut. Untuk tugas profesional di bidang K3 selengkapnya klik disini. Profesi di bidang kesehatan kerja atau K3 sendiri secara mendasar bisa dibagi menjadi 3 jenis meliputi: Profesi keselamatan kerja Profesi kedokteran kerja Profesi higiene industri (industrial hygiene) Secara kasar, keselamatan kerja lebih bersifat teknik / rekayasa (engineering) dan kedokteran kerja lebih bersifat medis, sedangkan higiene industri adalah yang menghubungkan keduanya, selengkapnya klik disini. Di lapangan, jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri sering disatukan sehingga terkesan tidak ada perbedaan yang berarti. Lalu siapa saja yang biasanya bekerja atau berprofesi di bidang K3? Beberapa referensi menyebutkan bahwa untuk berprofesi di bidang K3 harus mempunyai dasar sains dan engineering. K3 adalah bidang yang multidisipliner, oleh karena itu banyak latar belakang pendidikan yang bisa menjadi profesional di bidang K3. Secara lebih rinci berikut orang-orang yang biasanya berprofesi sebagai K3: 1. Lulusan K3 kesehatan masyarakat Lulusan K3 kesehatan masyarakat (kesmas) / public health adalah lulusan fakultas kesehatan masyarakat dengan jurusan / konsentrasi K3 atau sering disebut sebagai hiperkes (higiene perusahaan dan kesehatan kerja). Jurusan ini merupakan salah satu jurusan yang menggunakan ‘judul’ K3. Jadi otomatis lulusannya juga berprofesi di bidang K3 karena konsentrasinya memang di bidang K3. Jurusan K3 seperti ini juga ada yang berada di bawah fakultas kedokteran dan ada pula yang berupa jurusan mandiri (tidak terikat dengan jurusan bidang kesehatan lainnya) atau bahkan berupa akademi khusus, selengkapnya klik disini. 2. Engineer / insinyur Engineer memiliki kelebihan dalam mendesain dan merekayasa. Engineer juga memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai teknologi-teknologi yang digunakan di tempat kerja seperti mesin, proses dsb sehingga sangat baik dalam mendesain atau redesain elemen atau sistem kerja agar lebih safe. Engineer atau insinyur yang mempelajari bidang K3 biasanya adalah health &#38; safety engineer atau seringkali disebut sebagai safety engineer saja (lulusan atau insinyur teknik K3) dan industrial engineer (insinyur teknik industri). Teknik K3 (health &#38; safety engineering) sebenarnya hampir sama dengan K3 yang berada di lingkungan fakulas kesmas namun memiliki beberapa perbedaan karena teknik K3 berada di lingkungan teknik / engineering. Sampai saat ini saya baru pernah mendengar tiga program studi teknik K3 / safety engineering di Indonesia, selengkapnya klik disini. Industrial engineering atau teknik industri memiliki beberapa konsentrasi dan cakupannya luas sehingga industrial engineer memiliki bidang profesi yang juga luas. Salah satu konsentrasi tersebut adalah ergonomi / human factors &#38; perancangan sistem kerja. Konsentrasi ini sangat berkaitan dengan K3 di tempat kerja. Bahkan beberapa referensi menyebutkan bahwa health &#38; safety engineering itu serupa dengan industrial engineering dalam banyak hal. Walaupun ergonomi juga dikenal di semua pendidikan yang berhubungan dengan K3 seperti kesmas dsb, namun ergonomi paling banyak dikaitkan dengan industrial engineering karena disini ergonomi paling intens dipelajari secara mendalam, paling luas cakupannya (fisik, kognitif, dsb) serta karena ergonomi berbicara mengenai desain dan engineering-lah yang paling berhubungan dengan desain. Ahli di bidang ergonomi disebut ergonom atau dalam bahasa inggris disebut ergonomist, karena itu banyak pula industrial engineer (yang mengambil konsentrasi di ergonomi) yang menyebut dirinya sebagai ergonom walaupun ergonom sebenarnya bisa saja berlatar pendidikan K3 kesmas atau sejenisnya. Mengenai ergonom, selengkapnya klik disini. Ergonomi dikenal juga dengan human factors, karena itu ergonom juga sering diasosiasikan dengan human factors engineer atau human engineer. Selain mempunyai konsentrasi di ergonomi &#38; perancangan sistem kerja, industrial engineer juga mampu menyelaraskan atau mengintegrasikan K3 dengan konsep lean atau sejenisnya yang sepertinya akhir-akhir ini sering diperbincangkan. Selengkapnya mengenai industrial engineering klik disini. Engineer lain seperti mechanical engineer (insinyur teknik mesin) juga bisa berprofesi di bidang K3 (masih ‘saudara’ dengan industrial engineer), dan environmental engineer (insinyur teknik lingkungan) juga ahli dalam K3L/EHS walaupun lebih ke environment-nya. Selain itu engineer lain juga bisa berprofesi di bidang ini sesuai dengan jenis industrinya, misalnya industri kimia akan membutuhkan chemical engineer (insinyur teknik kimia) dalam divisi K3nya, industri konstruksi akan membutuhkan civil engineer (insinyur teknik sipil), industri perminyakan akan membutuhkan petroleum engineer (insinyur teknik perminyakan), industri pertambangan akan membutuhkan mining engineer (insinyur teknik pertambangan), begitu pula dengan electrical engineering (insinyur teknik elektro), nuclear engineering (insinyur teknik nuklir), dsb. 3. Dokter Dokter yang bekonsentrasi pada bidang K3 adalah dokter spesialis okupasi. Sampai saat ini saya baru tahu satu universitas yang menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis okupasi di Indonesia. Selain itu, di bidang kedokteran juga ada magister kedokteran kerja dan magister ergonomi. Selengkapnya klik disini dan disini. Lulusan K3 kesmas, engineer, dan dokter sebenarnya masing-masing mempunyai peran yang berbeda-beda dalam K3. Namun semua pihak harus bisa bekerja sama untuk mewujudkan K3 yang lebih baik. Lulusan K3 kesmas dan engineer biasanya mengisi jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri. Nama posisi di perusahaan seperti safety officer, EHS staff atau semacamnya seperti yang telah disebutkan di atas juga tergolong]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebutuhan akan keselamatan dan kesehatan kerja di masyarakat semakin meningkat sebagai dampak dari globalisasi dan perdagangan bebas. Keberadaan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan menjamin perkembangan investasi industri di Indonesia. Kebutuhan K3 yang semakin meningkat tidak hanya pada masyarakat industri (sektor formal) tetapi juga penting bagi masyarakat khususnya pelaku sektor usaha skala kecil dan menengah (small medium enterprise). Oleh karena itu,profesi di bidang K3 pun makin banyak dibutuhkan. Namun antusiasme masyarakat untuk mengambil pendidikan atau profesi di bidang ini nampaknya masih kurang. Mungkin karena bidang ini tidak sepopuler bidang yang lain, padahal bidang K3 merupakan bidang yang menarik. Profesi K3 banyak ragamnya, diantaranya sebagai konsultan K3, tenaga profesional di industri / perusahaan, pengajar/akademisi, peneliti, dsb.</p>
<p>K3 umunya dijadikan satu dengan bidang lingkungan (K3L) atau dalam bahasa Inggris disebut EHS (environment, health &amp; safety), begitu pula di perusahaan, divisi yang mengurusi bidang ini dinamai divisi EHS (ada juga yang menamai HSE, SHE dsb yang pada intinya sama). Oleh karena itu, professional-profesional K3 yang bekerja di industri / perusahaan berada di divisi ini. Istilah dan jabatan dalam divisi ini beragam mulai dari safety officer, EHS staff atau semacamnya, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/09/safety-officer.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Kesehatan kerja atau K3 dalam sistemnya yang utuh tersusun atas empat komponen yakni (1) promosi kesehatan pekerja, (2) higiene Industri, (3) ergonomi industri, (4) pengembangan organisasi kerja dan budaya yang mendukung kesehatan. Karena itu jobdesk atau tugas profesi K3 juga pasti tidak akan jauh-jauh dari keempat komponen tersebut. Untuk tugas profesional di bidang K3 selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/05/tugas-pokok-pelayanan-kesehatan-kerja.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Profesi di bidang kesehatan kerja atau K3 sendiri secara mendasar bisa dibagi menjadi 3 jenis meliputi:</p>
<ol>
<li>Profesi keselamatan kerja</li>
<li>Profesi kedokteran kerja</li>
<li>Profesi higiene industri (industrial hygiene)</li>
</ol>
<p>Secara kasar, keselamatan kerja lebih bersifat teknik / rekayasa (engineering) dan kedokteran kerja lebih bersifat medis, sedangkan higiene industri adalah yang menghubungkan keduanya, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/08/keselamatan-kerja-kedokteran-kerja-dan.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Di lapangan, jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri sering disatukan sehingga terkesan tidak ada perbedaan yang berarti.</p>
<p>Lalu siapa saja yang biasanya bekerja atau berprofesi di bidang K3? Beberapa referensi menyebutkan bahwa untuk berprofesi di bidang K3 harus mempunyai dasar sains dan engineering. K3 adalah bidang yang multidisipliner, oleh karena itu banyak latar belakang pendidikan yang bisa menjadi profesional di bidang K3. Secara lebih rinci berikut orang-orang yang biasanya berprofesi sebagai K3:</p>
<p><strong>1. Lulusan K3 kesehatan masyarakat</strong><br />
Lulusan K3 kesehatan masyarakat (kesmas) / public health adalah lulusan fakultas kesehatan masyarakat dengan jurusan / konsentrasi K3 atau sering disebut sebagai hiperkes (higiene perusahaan dan kesehatan kerja). Jurusan ini merupakan salah satu jurusan yang menggunakan ‘judul’ K3. Jadi otomatis lulusannya juga berprofesi di bidang K3 karena konsentrasinya memang di bidang K3. Jurusan K3 seperti ini juga ada yang berada di bawah fakultas kedokteran dan ada pula yang berupa jurusan mandiri (tidak terikat dengan jurusan bidang kesehatan lainnya) atau bahkan berupa akademi khusus, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/08/keselamatan-kerja-kedokteran-kerja-dan.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p><strong>2. Engineer / insinyur</strong><br />
Engineer memiliki kelebihan dalam mendesain dan merekayasa. Engineer juga memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai teknologi-teknologi yang digunakan di tempat kerja seperti mesin, proses dsb sehingga sangat baik dalam mendesain atau redesain elemen atau sistem kerja agar lebih safe. Engineer atau insinyur yang mempelajari bidang K3 biasanya adalah health &amp; safety engineer atau seringkali disebut sebagai safety engineer saja (lulusan atau insinyur teknik K3) dan industrial engineer (insinyur teknik industri). Teknik K3 (health &amp; safety engineering) sebenarnya hampir sama dengan K3 yang berada di lingkungan fakulas kesmas namun memiliki beberapa perbedaan karena teknik K3 berada di lingkungan teknik / engineering. Sampai saat ini saya baru pernah mendengar tiga program studi teknik K3 / safety engineering di Indonesia, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/program-studi-teknik-keselamatan-dan.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Industrial engineering atau teknik industri memiliki beberapa konsentrasi dan cakupannya luas sehingga industrial engineer memiliki bidang profesi yang juga luas. Salah satu konsentrasi tersebut adalah ergonomi / human factors &amp; perancangan sistem kerja. Konsentrasi ini sangat berkaitan dengan K3 di tempat kerja. Bahkan beberapa referensi menyebutkan bahwa health &amp; safety engineering itu serupa dengan industrial engineering dalam banyak hal. Walaupun ergonomi juga dikenal di semua pendidikan yang berhubungan dengan K3 seperti kesmas dsb, namun ergonomi paling banyak dikaitkan dengan industrial engineering karena disini ergonomi paling intens dipelajari secara mendalam, paling luas cakupannya (fisik, kognitif, dsb) serta karena ergonomi berbicara mengenai desain dan engineering-lah yang paling berhubungan dengan desain. Ahli di bidang ergonomi disebut ergonom atau dalam bahasa inggris disebut ergonomist, karena itu banyak pula industrial engineer (yang mengambil konsentrasi di ergonomi) yang menyebut dirinya sebagai ergonom walaupun ergonom sebenarnya bisa saja berlatar pendidikan K3 kesmas atau sejenisnya. Mengenai ergonom, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/10/ergonom.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Ergonomi dikenal juga dengan human factors, karena itu ergonom juga sering diasosiasikan dengan human factors engineer atau human engineer. Selain mempunyai konsentrasi di ergonomi &amp; perancangan sistem kerja, industrial engineer juga mampu menyelaraskan atau mengintegrasikan K3 dengan konsep lean atau sejenisnya yang sepertinya akhir-akhir ini sering diperbincangkan. Selengkapnya mengenai industrial engineering klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/teknik-industri-dan-k3.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Engineer lain seperti mechanical engineer (insinyur teknik mesin) juga bisa berprofesi di bidang K3 (masih ‘saudara’ dengan industrial engineer), dan environmental engineer (insinyur teknik lingkungan) juga ahli dalam K3L/EHS walaupun lebih ke environment-nya. Selain itu engineer lain juga bisa berprofesi di bidang ini sesuai dengan jenis industrinya, misalnya industri kimia akan membutuhkan chemical engineer (insinyur teknik kimia) dalam divisi K3nya, industri konstruksi akan membutuhkan civil engineer (insinyur teknik sipil), industri perminyakan akan membutuhkan petroleum engineer (insinyur teknik perminyakan), industri pertambangan akan membutuhkan mining engineer (insinyur teknik pertambangan), begitu pula dengan electrical engineering (insinyur teknik elektro), nuclear engineering (insinyur teknik nuklir), dsb.</p>
<p><strong>3. Dokter</strong><br />
Dokter yang bekonsentrasi pada bidang K3 adalah dokter spesialis okupasi. Sampai saat ini saya baru tahu satu universitas yang menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis okupasi di Indonesia. Selain itu, di bidang kedokteran juga ada magister kedokteran kerja dan magister ergonomi. Selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/kedokteran-okupasi-atau-kedokteran.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a> dan <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/04/institusi-pendidikan-ergonomi-di.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Lulusan K3 kesmas, engineer, dan dokter sebenarnya masing-masing mempunyai peran yang berbeda-beda dalam K3. Namun semua pihak harus bisa bekerja sama untuk mewujudkan K3 yang lebih baik. Lulusan K3 kesmas dan engineer biasanya mengisi jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri. Nama posisi di perusahaan seperti safety officer, EHS staff atau semacamnya seperti yang telah disebutkan di atas juga tergolong dalam jenis profesi keselamatan kerja dan hygiene industri, oleh karena itu mayoritas safety officer dan EHS staff atau semacamnya diisi oleh lulusan K3 kesmas dan engineer. Sedangkan kedokteran okupasi sudah pasti mengisi jenis profesi kedokteran kerja dan di perusahaan mungkin lebih sering menduduki posisi dokter perusahaan. Di luar perusahaan atau industri, jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri banyak yang menjadi konsultan K3 sedangkan dokter spesialis okupasi banyak yang bekerja di rumah sakit (konon akan ada rumah sakit khusus pekerja di Indonesia, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/06/pentingnya-rumah-sakit-pekerja-di.html?m=0" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>) atau klinik (terdapat klinik okupasi, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/klinik-okupasi.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>). Sedangkan sisanya menjadi akademisi, peneliti, dsb.</p>
<p>Selain tiga jenis profesi keselamatan kerja, kedokteran kerja, dan higiene industri, beberapa referensi juga menambahkan dua jenis profesi yakni perawat kesehatan kerja (occupational health nurse) dan ahli manajemen kesehatan kerja sehingga secara lengkap ada lima jenis profesi di bidang K3.</p>
<p>Kebutuhan profesional di bidang K3 di Indonesia terus berkembang dari periode ke periode. Dilihat dari sejarah modern, ada tiga tahap perkembangan kebutuhan profesioanl di bidang K3, selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/kebutuhan-sdm-dan-profesional-k3.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Di lingkungan kerja, profesi K3 terutama jenis profesi keselamatan kerja dan higiene industri akan banyak berhubungan dengan bidang-bidang lain seperti bagian produksi/proses (bagian dengan risk terbesar), bagian engineering, bagian SDM (sama-sama berorientasi pada manusia yakni pekerja), dsb.</p>
<p>Selain hardskill atau pendidikan formal yang telah disebutkan di atas, beberapa kemampuan lain (softskill) yang juga dibutuhkan dalam profesi di bidang K3, meliputi detail-oriented, responsible, analytical with excellent problem-solving and communication skills, mempunyai creative ability and an imaginative nature, dan tentunya sebaiknya mempunyai passion yang tinggi di bidang K3.</p>
<p>Namun yang perlu ditekankan adalah bahwa menjalani profesi di bidang K3 tidak selalu mengenai desain atau engineering, standar, aturan, policy, dan prosedur. Berprofesi di bidang K3 juga mengenai being helpful, caring about people, mengkomunikasikan hazards, attitude / behavior / perilaku dan pendekatan-pendekatan.<br />
<em><br />
*disarikan dari berbagai sumber.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/profesi-di-bidang-k3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shift Kerja dan Jam Biologis Tubuh Manusia</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/shift-kerja-dan-jam-biologis-tubuh-manusia.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/shift-kerja-dan-jam-biologis-tubuh-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 17:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia kerja sering dijumpai sistem kerja rotasi atau shift. Dunia kerja yang menggunakan sistem ini diantaranya industri terutama manufaktur (pabrik) yang mengharuskan produksi berjalan selama 24 jam, bidang kesehatan seperti rumah sakit yang mengharuskan berjalan selama 24 jam, dan tempat-tempat kerja lainnya yang aktivitasnya berlangsung 24 jam. Shift kerja mengharuskan pekerja mengalami giliran kerja di malam hari. Hal ini berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena tubuh manusia sebenarnya tidak ‘dirancang’ untuk bekerja pada malam hari. Mengapa manusia tidak optimal untuk bekerja di malam hari? Jawabannya adalah karena tubuh manusia memiliki jam biologis tubuh manusia atau ritme circadian. Tayyari dan Smith (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam. Senada dengan definisi tersebut, Rosa dan Colligan (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai suatu ritme tubuh yang ”ups” dan ”down” yang secara teratur dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam. Fungsi-fungsi tubuh yang dimaksud antara lain suhu badan, tingkat metabolisme, kesiagaan, detak jantung, tekanan darah, pola tidur-bangun, kemampuan mental, dan komposisi kimia tertentu pada tubuh. Secara umum fungsi-fungsi tubuh tersebut akan meningkat atau sangat aktif pada siang hari tetapi akan menurun atau tidak aktif pada malam hari. Masa selama siang hari disebut sebagai fase ergotropic dimana kinerja manusia berada pada puncaknya, sedangkan masa malam hari disebut fase trophotropic dimana terjadi proses istirahat dan pemulihan tenaga. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ritme circadian menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian. Ini berarti fungsi dan tahapan fisiologis dan psikologis memiliki suatu ritme yang tertentu selama 24 jam sehari, sehingga ritme circadian seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya ritme circadian pada tubuh pekerja akan terjadi dampak pada pekerja seperti gangguan gastrointestinal, gangguan pola tidur dan gangguan kesehatan lain. Selengkapnua mengenai ritme circadian / jam bilogis tubuh manusia klik disini. Sekali lagi, manusia tidak ideal untuk bekerja pada malam hari karena mempengaruhi perubahan ritme circadian dimana mempengaruhi fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kapasitas performance kerja. Penelitian menunjukkan bahwa kerja shift (kerja malam) merupakan sumber utama dari stress bagi para pekerja pabrik (Monk dan Tepas, 1985). Ketidakcocokan antara waktu kerja dengan ritme circadian ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan, keselamatan kerja, dan aspek sosial, antara lain: Kelelahan kronis, yaitu perasaan lelah yang sangat hebat yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya penyakit lain serta penurunan motivasi kerja. Selain itu, gangguan ini juga menyebabkan terjadinya penurunan selera makan Masalah gastrointestinal (pencernaan), seseorang yang bekerja pada malam hari memiliki kecenderungan untuk menderita gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan adanya ritme circadian yang turun naik sehingga menciptakan kesulitan pada lambung untuk mencerna makanan pada malam hari. Meningkatkan risiko penyakit jantung. Seseorang yang bekerja pada shift malam biasanya mengkonsumsi makanan rendah gizi, kebiasaan merokok meningkat serta tekanan-tekanan pada jantung akibat aktivitas berat di malam hari. Oleh karena itu manajemen shift kerja harus benar-benar diperhatikan. Risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada shift kerja harus benar-benar diminimalisir. Sudah banyak referensi dan penelitian mengenai shift kerja yang baik tetapi tidak akan dijelaskan disini, namun ada satu hal yang akan ditekankan disini bahwa seperti halnya ukuran antropometri setiap individu yang berbeda-beda, tipe ritme circadian setiap individu itu juga berbeda. Ada dua tipe circadian, yaitu tipe siang (morningness) dan tipe malam (eveningness), selengkapnya disini. Sesuai dengan prinsip ergonomi ‘fit the job to the man’, sebenarnya akan lebih baik jika waktu kerja juga disesuaikan dengan tipe masing-masing individu ini. Lalu bagaimana dengan rencana penyatuan zona waktu Indonesia yang dapat mengakibatkan perubahan waktu di beberapa wilayah? Apakah serupa dengan kasus rotasi shift kerja? Selengkapnya klik disini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam dunia kerja sering dijumpai sistem kerja rotasi atau shift. Dunia kerja yang menggunakan sistem ini diantaranya industri terutama manufaktur (pabrik) yang mengharuskan produksi berjalan selama 24 jam, bidang kesehatan seperti rumah sakit yang mengharuskan berjalan selama 24 jam, dan tempat-tempat kerja lainnya yang aktivitasnya berlangsung 24 jam. Shift kerja mengharuskan pekerja mengalami giliran kerja di malam hari. Hal ini berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena tubuh manusia sebenarnya tidak ‘dirancang’ untuk bekerja pada malam hari. Mengapa manusia tidak optimal untuk bekerja di malam hari? Jawabannya adalah karena tubuh manusia memiliki jam biologis tubuh manusia atau ritme circadian.</p>
<p>Tayyari dan Smith (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam. Senada dengan definisi tersebut, Rosa dan Colligan (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai suatu ritme tubuh yang ”ups” dan ”down” yang secara teratur dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam. Fungsi-fungsi tubuh yang dimaksud antara lain suhu badan, tingkat metabolisme, kesiagaan, detak jantung, tekanan darah, pola tidur-bangun, kemampuan mental, dan komposisi kimia tertentu pada tubuh. Secara umum fungsi-fungsi tubuh tersebut akan meningkat atau sangat aktif pada siang hari tetapi akan menurun atau tidak aktif pada malam hari. Masa selama siang hari disebut sebagai fase ergotropic dimana kinerja manusia berada pada puncaknya, sedangkan masa malam hari disebut fase trophotropic dimana terjadi proses istirahat dan pemulihan tenaga.</p>
<p>Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ritme circadian menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian. Ini berarti fungsi dan tahapan fisiologis dan psikologis memiliki suatu ritme yang tertentu selama 24 jam sehari, sehingga ritme circadian seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya ritme circadian pada tubuh pekerja akan terjadi dampak pada pekerja seperti gangguan gastrointestinal, gangguan pola tidur dan gangguan kesehatan lain. Selengkapnua mengenai ritme circadian / jam bilogis tubuh manusia klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/ritme-circadian-jam-biologis-manusia.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
<p>Sekali lagi, manusia tidak ideal untuk bekerja pada malam hari karena mempengaruhi perubahan ritme circadian dimana mempengaruhi fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kapasitas performance kerja. Penelitian menunjukkan bahwa kerja shift (kerja malam) merupakan sumber utama dari stress bagi para pekerja pabrik (Monk dan Tepas, 1985). Ketidakcocokan antara waktu kerja dengan ritme circadian ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan, keselamatan kerja, dan aspek sosial, antara lain:</p>
<ol>
<li>Kelelahan kronis, yaitu perasaan lelah yang sangat hebat yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya penyakit lain serta penurunan motivasi kerja. Selain itu, gangguan ini juga menyebabkan terjadinya penurunan selera makan</li>
<li>Masalah gastrointestinal (pencernaan), seseorang yang bekerja pada malam hari memiliki kecenderungan untuk menderita gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan adanya ritme circadian yang turun naik sehingga menciptakan kesulitan pada lambung untuk mencerna makanan pada malam hari.</li>
<li>Meningkatkan risiko penyakit jantung. Seseorang yang bekerja pada shift malam biasanya mengkonsumsi makanan rendah gizi, kebiasaan merokok meningkat serta tekanan-tekanan pada jantung akibat aktivitas berat di malam hari.</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu manajemen shift kerja harus benar-benar diperhatikan. Risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada shift kerja harus benar-benar diminimalisir. Sudah banyak referensi dan penelitian mengenai shift kerja yang baik tetapi tidak akan dijelaskan disini, namun ada satu hal yang akan ditekankan disini bahwa seperti halnya ukuran antropometri setiap individu yang berbeda-beda, tipe ritme circadian setiap individu itu juga berbeda. Ada dua tipe circadian, yaitu tipe siang (morningness) dan tipe malam (eveningness), selengkapnya <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/ritme-circadian-jam-biologis-manusia.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>. Sesuai dengan prinsip ergonomi ‘<em>fit the job to the man</em>’, sebenarnya akan lebih baik jika waktu kerja juga disesuaikan dengan tipe masing-masing individu ini.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan rencana penyatuan zona waktu Indonesia yang dapat mengakibatkan perubahan waktu di beberapa wilayah? Apakah serupa dengan kasus rotasi shift kerja? Selengkapnya klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/penyatuan-zona-waktu-indonesia-dan-jam.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/shift-kerja-dan-jam-biologis-tubuh-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Penanganan Kelelahan Akibat Panas</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/cara-penanganan-kelelahan-akibat-panas.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/cara-penanganan-kelelahan-akibat-panas.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 16:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[cara penanganan kelelahan akibat panas]]></category>
		<category><![CDATA[gejala kelelahan akibat panas]]></category>
		<category><![CDATA[kelelhana akibat panas]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab umum kelelahan akibat panas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1123</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan kelelahan akibat panas disebabkan oleh kehilangan garam dan air melalui keringat yang berlebihan. Kelelahan akibat panas terjadi secara bertahap, dan biasanya pada orang yag tidak dapat menyesuaikan diri pada panas tertentu dan tingkat kelembaban yang tinggi. Seseorang yang kondisi kesehatannya kurang baik, khususnya mereka yang sedang menderita muntah dan diare, lebih rentan mengalami kelelahan akibat panas. Penyebab umum yang berbahaya adalah suhu tubuh yang sangat tinggi, dan kondisi tubuh yang kurang baik contohnya setelah menggunakan obat tertentu seperti ekstasi. Pemakai ekstasi akan berkatifitas secara berlebihan dalam waktu yang ama sehingga banyak mengeluarkan keringat. Lama kelamaan mereka akan mengalami dehidrasi dan akhirnya terjadi kelelahan akibat panas. Keadaan tersebut akan diperburukoleh efek obat terhadap pengaturan suhu tubuh yang berpusat di otak, sehingga dapat mengakibatkan heat stroke dan bahkan kematian. Mengetahui ciri-ciri kelelahan akibat panas Gejala yang mungkin dapat dilihat adalah Sakit kepala, pusing dan terlihat bingung Hilang selera makan dan rasa mual Berkeringat, kulit pucat dan lembab Tangan, kaki dan perut dapat menjadi keram Nadi cepat dan lemah Penanganan Kelelahan Akibat Panas Bawa korban ke tempat yang teduh. Baringka korban dengan ke dua kaki ditinggikan Beri minum, bila perlu berikan sedikit larutan garam dengan takaran 1 sendok teh garam untuk satu liter air Walaupun korban akan pulih dengan cepat, korban tetap harus dibawa ke rumah sakit terdekat Jika kesadaran korban menurun, berikan posisi stabil (recovery position) Awasi dan catat tanda tanda vital]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gangguan kelelahan akibat panas disebabkan oleh kehilangan garam dan air melalui keringat yang berlebihan. Kelelahan akibat panas terjadi secara bertahap, dan biasanya pada orang yag tidak dapat menyesuaikan diri pada panas tertentu dan tingkat kelembaban yang tinggi. Seseorang yang kondisi kesehatannya kurang baik, khususnya mereka yang sedang menderita muntah dan diare, lebih rentan mengalami kelelahan akibat panas.</p>
<p>Penyebab umum yang berbahaya adalah suhu tubuh yang sangat tinggi, dan kondisi tubuh yang kurang baik contohnya setelah menggunakan obat tertentu seperti ekstasi. Pemakai ekstasi akan berkatifitas secara berlebihan dalam waktu yang ama sehingga banyak mengeluarkan keringat. Lama kelamaan mereka akan mengalami dehidrasi dan akhirnya terjadi kelelahan akibat panas. Keadaan tersebut akan diperburukoleh efek obat terhadap pengaturan suhu tubuh yang berpusat di otak, sehingga dapat mengakibatkan heat stroke dan bahkan kematian.</p>
<p>Mengetahui ciri-ciri kelelahan akibat panas</p>
<p>Gejala yang mungkin dapat dilihat adalah</p>
<ul>
<li>Sakit kepala, pusing dan terlihat bingung</li>
<li>Hilang selera makan dan rasa mual</li>
<li>Berkeringat, kulit pucat dan lembab</li>
<li>Tangan, kaki dan perut dapat menjadi keram</li>
<li>Nadi cepat dan lemah</li>
</ul>
<p>Penanganan Kelelahan Akibat Panas</p>
<ul>
<li>Bawa korban ke tempat yang teduh. Baringka korban dengan ke dua kaki ditinggikan</li>
<li>Beri minum, bila perlu berikan sedikit larutan garam dengan takaran 1 sendok teh garam untuk satu liter air</li>
<li>Walaupun korban akan pulih dengan cepat, korban tetap harus dibawa ke rumah sakit terdekat</li>
<li>Jika kesadaran korban menurun, berikan posisi stabil (recovery position)</li>
<li>Awasi dan catat tanda tanda vital</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/cara-penanganan-kelelahan-akibat-panas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Menangani Keracunan Makanan</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/cara-menangani-keracunan-makanan.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/cara-menangani-keracunan-makanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 15:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artikelk3.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[virus penyebab keracunan makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Keracunan makanan biasanya disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri atau virus. Beberapa kasus keracunan makanan disebabkan oleh racun dari bakteri  yang ada di dalam makanan tersebut sebelumnya. Kelompok Salmonella atau E.coli yang terdapat pada daging, merupakan penyebab umum dari keracunan makanan. Gejala akan terlihat sangat cepat yang bisa dihitung dalam beberapa jam atau tidak terlihat sampai beberapa hari kemudian atau segera terlihat setelah memakan makanan yang terkontaminasi. Racun dari makanan yang terkontaminasi biasanya dihasilkan oleh kelompok bakteri salmonella. Gejala keracunan biasanya terjadi sangat cepat, dapat terjadi dalam 2-4 jam setelah makan makanan yang terkontaminasi. Salah satu bahaya dari keracunan makanan adalah kehilangan cairan tubuh. Dehidrasi disebabkan oleh keluarnya cairan tubuh dalam jumlah yang banyak, sehingga tubuh kekurangan banyak cairan. Dehidrasi dapat bertambah berat bila pada anak-anank dan manula. Pada beberapa kasus diperlukan penanganan di rumah sakit. Pengenalan Keracunan Makanan Mual dan muntah Keram perut dan sakit Diare (kemungkinan terdapat darah) Sakit kepala atau demam Kemungkinan syok Gangguan tingkat kesadaran Pengananan Keracunan Makanan Anjurkan korban untuk berbaring dan istirahat. Selimuti korban dan jaga korban untuk tetap nyaman Beri air minum, sari buah, teh pekat dan baskom atau wadah plastik untuk menampung muntahan. Segera cari bantuan medis Segera Kirim korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan bila gejala keracunanan bertambah parah. Peringatan Bila kondisi korban bertambah  buruk, segera panggil ambulan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keracunan makanan biasanya disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri atau virus. Beberapa kasus keracunan makanan disebabkan oleh racun dari bakteri  yang ada di dalam makanan tersebut sebelumnya. Kelompok Salmonella atau E.coli yang terdapat pada daging, merupakan penyebab umum dari keracunan makanan.</p>
<p>Gejala akan terlihat sangat cepat yang bisa dihitung dalam beberapa jam atau tidak terlihat sampai beberapa hari kemudian atau segera terlihat setelah memakan makanan yang terkontaminasi.</p>
<p>Racun dari makanan yang terkontaminasi biasanya dihasilkan oleh kelompok bakteri salmonella. Gejala keracunan biasanya terjadi sangat cepat, dapat terjadi dalam 2-4 jam setelah makan makanan yang terkontaminasi.</p>
<p>Salah satu bahaya dari keracunan makanan adalah kehilangan cairan tubuh. Dehidrasi disebabkan oleh keluarnya cairan tubuh dalam jumlah yang banyak, sehingga tubuh kekurangan banyak cairan. Dehidrasi dapat bertambah berat bila pada anak-anank dan manula. Pada beberapa kasus diperlukan penanganan di rumah sakit.</p>
<p><strong>Pengenalan Keracunan Makanan</strong></p>
<ul>
<li>Mual dan muntah</li>
<li>Keram perut dan sakit</li>
<li>Diare (kemungkinan terdapat darah)</li>
<li>Sakit kepala atau demam</li>
<li>Kemungkinan syok</li>
<li>Gangguan tingkat kesadaran</li>
</ul>
<p><strong>Pengananan Keracunan Makanan</strong></p>
<ul>
<li>Anjurkan korban untuk berbaring dan istirahat. Selimuti korban dan jaga korban untuk tetap nyaman</li>
<li>Beri air minum, sari buah, teh pekat dan baskom atau wadah plastik untuk menampung muntahan.</li>
<li>Segera cari bantuan medis</li>
<li>Segera Kirim korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan bila gejala keracunanan bertambah parah.</li>
</ul>
<p><strong>Peringatan</strong></p>
<p>Bila kondisi korban bertambah  buruk, segera panggil ambulan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/cara-menangani-keracunan-makanan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ergonomi Lingkungan</title>
		<link>http://www.artikelk3.com/ergonomi-lingkungan.html</link>
		<comments>http://www.artikelk3.com/ergonomi-lingkungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 08:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.artikelk3.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Ergonomi lingkungan atau environmental ergonomics adalah bidang di ergonomi yang berkaitan dengan hal-hal di sekitar orang yang bekerja, biasanya berupa lingkungan fisik. Topik yang relevan dalam ergonomi organisasi antara lain: pencahayaan di tempat kerja (lighting), temperatur di tempat kerja (thermal), kebisingan di tempat kerja (noise), getaran di tempat kerja (vibration), dsb. Bahkan belakangan ini muncul topik-topik yang berkaitan desain interior tempat kerja seperti bentuk ruangan dan warna. Bidang ini bertujuan untuk merancang tempat kerja yang lebih safe berkaitan dengan topik-topik tersebut. Apakah sama dengan K3 yang membahas lingkungan seperti noise dsb? memang sama, namun dalam ergonomi seringkali tujuan akhirnya tidak hanya sampai sebatas keselamatan dan kesehatan pekerja namun juga membahas performansi pekerja yang berkaitan dengan produktivitas kerja. Misalnya pada topik suhu / temperatur tempat kerja (thermal), ergonomi tidak hanya membahas sebatas bagaimana supaya pekerja terhindar dari paparan suhu yang sangat panas atau sangat dingin, namun ergonomi juga bisa membahas di suhu berapa suatu jenis pekerjaan tertentu bisa diselesaikan dengan optimal oleh pekerja sehingga performansi kerja optimal. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas serta performansi kerja seseorang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan kerja. Ada berbagai usaha yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan lingkungan atau situasi yang ada, salah satunya dengan jalan melakukan perbaikan pada work environment design. Kita dapat memperbaiki atau mencari titik optimal dari lingkungan dari beberapa aspek seperti suhu, suara, cahaya, warna dsb sehingga dapat menjadikan lingkungan tersebut menjadi kondusif untuk melakukan kerja, tugas atau aktivitas tertentu. Secara rinci, keuntungan dari menerapkan ergonomi lingkungan / work environment design yang baik kurang lebih sama dengan penerapan ergonomi / K3 pada umumnya, meliputi: Meningkatkan produktivitas Memperbaiki safety Mengurangi ketidakhadiran Mengurangi keterlambatan Mengurangi labor turnover Meningkatkan moral karyawan Meningkatkan public relations Pada beberapa referensi tidak menyebut ergonomi lingkungan sebagai cabang bidang utama ergonomi. Mungkin hal ini disebabkan karena pembahasan di ergonomi lingkungan lebih banyak ke fisik sehingga dimasukkan dalam ergonomi fisik. Namun beberapa referensi memisahkan ergonomi fisik dan ergonomi lingkungan. Ergonomi fisik lebih membahas pada masalah fisik si pekerja (manusianya), contoh topik-topiknya seperti anatomi tubuh manusia, antropometri, karakteristik fisiologi dan biomekanika, kekuatan fisik manusia kerja, postur kerja, beban fisik kerja, pemindahan material, studi gerakan dan waktu kerja, MSD, dsb. Sedangkan ergonomi lingkungan lebih membahas pada masalah fisik (walaupun sebenarnya tidak harus fisik) lingkungan si pekerja (lingkungan yang ada di sekitar manusia) dengan contoh topik seperti yang telah disebutkan diatas. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pembagian ergonomi klik disini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ergonomi lingkungan atau environmental ergonomics adalah bidang di ergonomi yang berkaitan dengan hal-hal di sekitar orang yang bekerja, biasanya berupa lingkungan fisik. Topik yang relevan dalam ergonomi organisasi antara lain: pencahayaan di tempat kerja (<a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/search/label/Ergonomi%20lingkungan%20%3A%20cahaya" rel="nofollow" target="_blank">lighting</a>), temperatur di tempat kerja (<a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/search/label/Ergonomi%20lingkungan%20%3A%20thermal" rel="nofollow" target="_blank">thermal</a>), kebisingan di tempat kerja (<a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/search/label/Ergonomi%20lingkungan%20%3A%20suara" rel="nofollow" target="_blank">noise</a>), getaran di tempat kerja (vibration), dsb. Bahkan belakangan ini muncul topik-topik yang berkaitan desain interior tempat kerja seperti bentuk ruangan dan <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/search/label/Ergonomi%20lingkungan%20%3A%20warna" rel="nofollow" target="_blank">warna</a>. Bidang ini bertujuan untuk merancang tempat kerja yang lebih safe berkaitan dengan topik-topik tersebut. Apakah sama dengan K3 yang membahas lingkungan seperti noise dsb? memang sama, namun dalam ergonomi seringkali tujuan akhirnya tidak hanya sampai sebatas keselamatan dan kesehatan pekerja namun juga membahas performansi pekerja yang berkaitan dengan produktivitas kerja. Misalnya pada topik suhu / temperatur tempat kerja (thermal), ergonomi tidak hanya membahas sebatas bagaimana supaya pekerja terhindar dari paparan suhu yang sangat panas atau sangat dingin, namun ergonomi juga bisa membahas di suhu berapa suatu jenis pekerjaan tertentu bisa diselesaikan dengan optimal oleh pekerja sehingga performansi kerja optimal.</p>
<p>Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas serta performansi kerja seseorang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan kerja. Ada berbagai usaha yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan lingkungan atau situasi yang ada, salah satunya dengan jalan melakukan perbaikan pada work environment design. Kita dapat memperbaiki atau mencari titik optimal dari lingkungan dari beberapa aspek seperti suhu, suara, cahaya, warna dsb sehingga dapat menjadikan lingkungan tersebut menjadi kondusif untuk melakukan kerja, tugas atau aktivitas tertentu.</p>
<p>Secara rinci, keuntungan dari menerapkan ergonomi lingkungan / work environment design yang baik kurang lebih sama dengan penerapan ergonomi / K3 pada umumnya, meliputi:</p>
<ul>
<li>Meningkatkan produktivitas</li>
<li>Memperbaiki safety</li>
<li>Mengurangi ketidakhadiran</li>
<li>Mengurangi keterlambatan</li>
<li>Mengurangi labor turnover</li>
<li>Meningkatkan moral karyawan</li>
<li>Meningkatkan public relations</li>
</ul>
<p>Pada beberapa referensi tidak menyebut ergonomi lingkungan sebagai cabang bidang utama ergonomi. Mungkin hal ini disebabkan karena pembahasan di ergonomi lingkungan lebih banyak ke fisik sehingga dimasukkan dalam ergonomi fisik. Namun beberapa referensi memisahkan ergonomi fisik dan ergonomi lingkungan. Ergonomi fisik lebih membahas pada masalah fisik si pekerja (manusianya), contoh topik-topiknya seperti anatomi tubuh manusia, antropometri, karakteristik fisiologi dan biomekanika, kekuatan fisik manusia kerja, postur kerja, beban fisik kerja, pemindahan material, studi gerakan dan waktu kerja, MSD, dsb. Sedangkan ergonomi lingkungan lebih membahas pada masalah fisik (walaupun sebenarnya tidak harus fisik) lingkungan si pekerja (lingkungan yang ada di sekitar manusia) dengan contoh topik seperti yang telah disebutkan diatas. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pembagian ergonomi klik <a href="http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/04/pengelompokan-disiplin-keilmuan.html" rel="nofollow" target="_blank"><strong>disini</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.artikelk3.com/ergonomi-lingkungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
