Adanya budaya keselamatan (safety culture) akan sangat mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Apa itu budaya keselamatan? Budaya keselamatan adalah sifat dan sikap dalam organisasi dan individu yang menekankan pentingnya keselamatan. Oleh karena itu, budaya keselamatan mempersyaratkan agar semua kewajiban yang berkaitan dengan keselamatan harus dilaksanakan secara benar, seksama, dan penuh rasa tanggung jawab. Namun budaya di setiap organisasi itu berbeda-beda dan bervariasi karakteristiknya seperti sebuah keluarga yang memiliki perbedaan dari keluarga lainnya. Pertanyaannya apakah sudah banyak organisasi dan individu yang melibatkan keselamatan dalam budayanya?
Each organisation has its own culture, its own character-like a family…
Walaupun K3 sudah “dianggap penting” dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Salah satu hambatan tersebut tidak lain adalah hambatan sosial budaya (selengkapnya mengenai hambatan dalam K3 lainnya klik disini). Ya ini artinya budaya keselamatan di negara kita masih patut dipertanyakan.
Budaya keselamatan yang masih kurang di negara kita ditandai dengan adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya santai dan tidak peduli dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada budaya mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat / pekerja. Contoh gampangnya jadikanlah pengendara sepeda motor sebagai sampel. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang sangat berkembang di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jalanan di negara kita hampir tidak pernah sepi dari lalu lalang sepeda motor. Sepeda motor sudah bisa menjadi cerminan garis besar gaya hidup dan budaya negara kita saat ini. Namun Anda bisa perhatikan berapa persen dari pengendara sepeda motor itu yang benar-benar mematuhi keselamatan misalnya saja menggunakan helm yang standar atau tidak, jika sudah apakah beltnya dikencangkan atau tidak, berapa persen yang benar-benar mematuhi rambu lalu lintas (termasuk saat lalu lintas sepi dan tidak ada polisi lalu lintas), berapa persen yang benar-benar merawat (maintenance) sepeda motornya dengan baik, bahkan perlu dipertanyakan berapa persen pengendara yang benar-benar bisa menyetir dalam arti benar-benar tahu cara mengendarai sepeda motor di jalan dengan benar dan paham semua rambu lalu lintas, dsb. Konon bahkan budaya keselamatan pengendara motor Indonesia tidak lebih baik dari Vietnam. Apakah pengendara tahu tentang keselamatan? Jawabannya sudah pasti ya, namun kenapa masih belum berjalan? karena keselamatan itu hanya masih dalam sebatas pengetahuan saja (walaupun sebenarnya pengetahuannya juga minim) namun belum membudaya, faktor budaya sangat berpengaruh baik itu budaya individu, keluarga, atau organisasi.
Ada beberapa kendala dalam menciptakan dan menegakkan budaya keselamatan di Indonesia, selengkapnya klik disini.
Namun bukan berarti negara dan masyarakat kita sama sekali tidak mempunyai budaya keselamatan. Sebenarnya kita sudah mempunyai beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan untuk memiliki budaya keselamatan. Namun entah kenapa budaya itu masih sulit ditegakan sepenuhnya di masyarakat kita. Beberapa nilai, benih, potensi, kerangka dan landasan budaya keselamatan yang sudah ada di dalam negara dan masyarakat kita antara lain:
Budaya keselamatan dalam budaya dan nilai lokal
Beberapa budaya lokal di negara kita sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai keselamatan seperti budaya Jawa yang memiliki pepatah “gremet-gremet waton selamet” yang artinya merayap asalkan selamat dan ”alon-alon waton kelakon” yang artinya pelan-pelan asal selamat (terlaksana). Ini bukan berarti mengajarkan untuk selalu lambat, tapi maksudnya adalah utamakan keselamatan (safety first), setelah keselamatan terjamin barulah kualitas dapat dicapai. Jadi maksud pepatah Jawa tersebut adalah mengerjakan sesuatu dengan dasar yang jelas, dengan cara yang selamat, efektif dan efisien dan tujuan tercapai dengan baik. Prinsip bekerja alon-alon waton kelakon tidak mengisyaratkan untuk kita bersantai-santai atau berleha-leha tetapi lebih mengisyaratkan agar kita tidak terburu-buru dan selalu waspada, silahkan saja orang lain menyalip jika memang mau duluan, yang penting kita menikmati dulu proses optimasi yang kita lakukan, dan kita tidak terlalu bernafsu mengejar yang sudah mendahului, karena perlahan tetapi mantap itu juga sama pentingnya dibandingkan langsung tancap gas tanpa pernah ngerem. Di budaya Jawa juga ada beberapa pepatah lain yang memiliki makna keselamatan seperti; “aja nggege mangsa” yang artinya jangan mempercepat musim atau waktu, makna sejatinya adalah jangan memaksakan diri dalam memperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak memuaskan, janganlah mengejar atau mempercepat produksi tapi mengabaikan keselamatan, nyawa Anda lebih berharga dari waktu yang Anda kejar; “cagak amben cemethi tali” yang bermakna dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit, berbahaya, dan berat diperlukan orang yang benar-benar mumpuni, disini tersirat bahwa bahaya dalam pekerjaan harus diantisipasi dan diperlukan training bagi pekerjanya agar bena-benar mumpuni; “jer basuki mawa beya” yang maknanya untuk mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup senantiasa memperlukan biaya, kerja keras, dan pengorbanan, begitu pula dengan K3, untuk mencapainya perlu investasi tapi percayalah bahwa investasi itu akan menguntungkan.
Di budaya Melayu terdapat pepatah “kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang” yang artinya orang yang pandai membawa diri, tentulah selamat hidupnya. Walaupun bermakna umum tapi mengandung arti keselamatan juga. Untuk mencapai suatu tujuan, misal target produksi dengan selamat maka harus bisa melewati pekerjaan di proses produksi dengan memperhatikan aspek keselamatan. Ada juga pepetah Melayu “mencegah lebih baik daripada mengubati” atau “menolak kerosakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan.” Hal ini sesuai dengan program K3 sebaiknya lebih ke preventif dan promotif daripada kuratif. Ada juga peribahasa Melayu “baik jadi ayam betina sepaya selamat”, maknanya jangan menonjolkan sok berani sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka dengan kata lain hindarilah perilaku yang berisiko dan menantang bahaya. Selain itu ada pepatah Melayu “jangan tergopoh gapah dalam melaksanakan sesuatu perkara” yang artinya mirip dengan “alon-alon waton kelakon.”
Di budaya Tionghoa terdapat filosofi “carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja” atau “carilah pekerjaan yang betul-betul kamu senangi, maka seumur hidup kamu tidak perlu lagi menyebutnya bekerja” (Confucius). Walaupun tidak secara explisit menyinggung keselamatan kerja fisik namun secara implisit filosofi ini mempunyai pesan yang senada dengan ergonomi yang merupakan prinsip dari K3 yakni “fitting the job to the man” yakni sesuaikan pekerjaan dengan individu karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik itu karakteristik non fisik maupun fisik (antropometri), sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara selamat dan sehat tidak hanya fisik namun juga mental serta produktif sehingga kualitasnya tinggi.
Budaya keselamatan nasional
Dalam hal regulasi, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai landasan untuk berbudaya keselamatan terbukti dengan adanya berbagai macam peraturan mengenai keselamatan kerja. Namun apakah pelaksanaannya sudah tegas?
Guna mendukung terlaksananya budaya keselamatan atau K3 di Indonesia sebenarnya Indonesia juga sudah mulai melakukan beberapa langkah seperti mencanangkan bulan K3 nasional sejak 2010 yakni bulan Januari-Februari (selengkapnya mengenai bulan K3 nasional klik disini) dan memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan Gerakan Efektif Masyarakat Membudayakan K3 (Gema Daya K3) secara nasional, regional dan bahkan secara internasional. Gema Daya K3 merupakan strategi dalam menyukseskan Gerakan Nasional Pembudayaan K3 yang ditujukan pada peningkatan peran aktif dan potensi masyarakat untuk mewujudkan budaya K3 di setiap tempat kerja dan dalam hal ini pemerintah, baik pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota sebagai motivator Gema Daya K3, maka kegiatan Gema Daya K3 sebagai gerakan bersama-sama, menyeluruh, dan terpadu harus dilaksanakan dengan rasa tanggungjawab secara berjenjang sesuai dengan tata cara sistem pemerintahan saat ini. Selengkapnya mengenai Gema Daya K3 klik disini.
Lalu bagaimana perbandingan budaya keselamatan negara kita dengan negara lain? Jangankan dengan negara maju seperti Jepang, Uni Eropa, atau negara tetangga Singapura, dengan negara-negara sesama negara berkembang di tingkat Asia Tenggara saja seperti Malaysia dan Thailand, K3 di Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Indonesia memang masih harus terus berjuang keras, berperan aktif dan bekerja secara kolektif dalam mendukung cita-cita besar bangsa, yaitu Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkannya adalah ‘Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015’, selengkapnya klik disini. Memang mayoritas negara yang sukses dengan budaya keselamatannya adalah negara maju namun untuk menjadi negara yang berbudaya keselamatan tidak harus menjadi negara maju terlebih dahulu karena sejatinya keselamatan itu adalah syarat munculnya kualitas yang nantinya justru akan menjadikan negara itu menjadi maju.
Budaya keselamatan dalam dunia profesional / dunia kerja
Di dunia professional / dunia kerja / dunia industri mungkin bisa dibilang memiliki budaya keselamatan yang lebih baik. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang berkiblat ke manajemen dari negara maju seperti Toyota yang menempatkan keselamatan (safety) sebagai elemen utama dalam Toyota Production System (selengkapnya mengenai keselamatan dalam Toyota Production System klik disini). Beberapa perusahaan juga sudah menerapkan 1 dari 8 filosofi K3 (International Association of Safety Professional), yakni “safety is a culture, not a program” (selengkapnya mengenai 8 filosofi K3 klik disini). Artinya K3 bukan sekedar program yang dijalankan perusahaan untuk sekedar memperoleh penghargaan dan sertifikat. K3 hendaklah menjadi cerminan dari budaya dalam organisasi. Beberapa perusahaan juga sudah “menyelipkan” keselamatan dalam visi dan misi perusahaan mereka yang membuktikan bahwa mereka serius terhadap penerapan budaya keselamatan (selengkapnya mengenai visi dan misi keselamatan klik disini). Hal tersebut cukup menggembirakan dan bisa jadi acuan dan contoh bagi perusahaan-perusahaan lainnya dan kesatuan masyarakat lainnya. Hal ini mengingat masih banyaknya perusahaan yang belum membudayakan keselamatan. Data menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan terjadi di dunia industri Indonesia cukup mengkhawatirkan. Sebagai gambaran sederhana bagaimana budaya keselamatan di industri di negara kita, ada sebuah penelitian yang menilai dan memetakan budaya keselamatan industri manufaktur Indonesia. Dengan skala 1-5 terhadap beberapa sampel perusahaan diperoleh hasil : 2.37 untuk faktor komitmen organisasi, 3.14 untuk faktor keterlibatan manajemen, 3.13 untuk faktor pemberdayaan pekerja, 3.08 untuk faktor komunikasi, 3.05 untuk faktor lingkungan kerja, 3.08 untuk faktor training, dan 3.02 untuk faktor reward/insentif, selengkapnya klik disini.
Jangan berpikir bahwa budaya keselamatan di dunia kerja hanya ada pada industri-industri atau perusahaan-perusahaan besar saja. Mayoritas populasi kerja justru ada di sektor usaha kecil menengah (UKM). Mempekerjakan lebih dari 95 persen populasi kerja di dunia, UKM menjadi sumber lapangan kerja utama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, UKM telah menjadi pendukung bagi pembangunan yang berkelanjutan dan sarana penting dalam menyerap tenaga kerja. Diperkirakan lebih dari 60 persen angkatan kerja saat ini bekerja di UKM. Karena mayoritas angkatan kerja berada di UKM maka budaya keselamatan di UKM ini akan menjadi penentu cerminan budaya keselamatan kerja di Indonesia. UKM masih menghadapi beragam tantangan. Salah satu diantaranya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, seraya meningkatkan K3 serta kondisi kerja. Budaya keselamatan di sektor UKM belum banyak tersentuh, namun ini justru menjadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki K3 di UKM. Budaya keselamatan di perusahaan-perusahaan ternama bisa diteladani sebagai upaya untuk menerapkan K3 secara efektif dan efisien sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan pelaksanaan budaya K3 di UKM untuk mengurangi kecelakaan kerja seraya meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Budaya keselamatan dalam agama
Masyarakat negara kita adalah masyarakat yang beragama. Agama menjadi salah satu faktor dominan yang mempengaruhi budaya masyarakat termasuk budaya keselamatan. Karena itu agama bisa jadi faktor pendorong munculnya budaya keselamatan di masyarakat kita. Bagi Anda yang muslim bisa melihat hubungan Islam dan K3, selengkapnya klik disini.
Lalu bagaimana cara untuk meningkatkan dan “menyuburkan” budaya keselamatan tersebut?
Jawabannya adalah dengan komitmen dan kepemimpinan (leadership). Komitmen untuk keselamatan akan muncul jika setiap organisasi atau individu dengan jelas memahami manfaat positif yang diperoleh dari keselamatan tersebut. Memahami manfaat akan menciptakan keinginan yang kuat untuk meningkatkan budaya keselamatan dan selanjutnya organisasi atau individu akan menginvestasikan waktu dan uang secara serius ke manajemen dan program keselamatan yang efektif (inilah komitmen). Selengkapnya mengenai komitmen keselamatan klik disini.
Kepemimpinan / leadership juga erat hubungannya dengan budaya. Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam setiap program di organisasi atau kesatuan masyarakat termasuk program-program keselamatan. Setiap hari, pemimpin seperti mandor, supervisor, manajer, bupati, gubernur, pemimpin keluarga dll memiliki banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan bertindak dengan cara yang menunjukkan kepemimpinannya dalam hal keselamatan (safety leadership). Sayangnya, peluang tersebut sering tidak terjawab karena mereka tidak memandang ini sebagai peluang. Mereka sering tidak mengerti bahwa ekspresi sederhana dalam kepemimpinan untuk safety dapat menghasilkan manfaat besar. Ketidakmampuan untuk melihat peluang kepemimpinan ini sama saja dengan membatasi potensi perusahaan atau organisasi untuk berhasil.
Setiap individu pada semua tingkat organisasi atau kesatuan masyarakat adalah orang-orang yang mencoba untuk melakukan terbaik yang mereka bisa dengan apa yang mereka punya. Masalahnya adalah, mereka tidak selalu memiliki sumber daya fisik dan dukungan psikososial untuk mencapai hasil yang diharapkan. Mungkin karena pemimpin tidak menyediakan sumber daya tersebut. Mengapa? Pada akhirnya, budaya lah yang tidak mendukung kepemimpinan dan manajemen termasuk dalam kepemimpinan dan manajemen keselamatan yang efektif. Namun bagaimanapun pemimpin lah yang seharusnya bisa menciptakan atau mengarahkan budaya pada orang-orang yang dipimpinnya tersebut termasuk dalam budaya keselamatan. Ya, budaya dan kepemimpinan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu efektifitas dari program keselamatan sangat tergantung dari budaya dan kepemimpinan. Selengkapnya mengenai kepemimpinan dalam keselamatan klik disini.
Safety culture is not an end state–but an ongoing process…………..
If the supply of energy stops –safety culture degenerates
Andai saja semua orang menghargai betapa berharganya arti keselamatan……………..


